Tampilkan postingan dengan label Komunikasi organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi organisasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juli 2013

KOMUNIKASI ORGANISASI



Komunikasi Organisasi
Studi komunikasi organisasi adalah studi mengenai cara orang memandang objek – objek, juga studi mengenai objek itu sendiri. Peranan yang dimainkan komunikasi dalam studi organisasi bergantung pada bagaimana organisasi tersebut dipahami. Dalam studi organisasi ada pandangan – pandangan alternatif tentang realitas, organisasi dan sifat manusia yang mana konsep – konsep ini akan memandu pemahaman mengenai komunikasi organisasi.

Pandangan Alternatif
Beberapa pandangan alternatif dalam memamahami organisasi, pertama realitas sosial dan bagaimana kita memahami dunia sosial kita.  Perilaku dan objek adalah konstruksi sosial, karena bergantung pada manusia untuk membuat perilaku dan objek itu signifikan, karena suatu objek sosial sekadar objek yang mempunyai makna bagi suatu kolektivitas atau menuntut tindakan manusia.Objektif merujuk pada pandangan bahwa objek – objek, perilaku – perilaku, dan perisitiwa – peristiwa eksis dalam masyarakat.Sedangkan subjektif menunjukkan bahwa realitas itu sendiri adalah suatu konstruksi sosial.

Kedua, organisasi.Secara khas organisasi dianggap sebagai kata benda, sementara “pengorganisasi” dianggap sebagai kata kerja (Weick, 1979).Kita dapat memahami organisasi manusia melalui seperangkat kesamaan prinsip yang digunakan untuk memahami mesin.Pemahaman seseorang mengenai organisasi bergantung pada asumsi – asumsi orang tersebut mengenai realitas atau dunia.
      
Ketiga, sifat manusia.Kelangsungan hidup suatu organisasi tergantung pada kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan seperti halnya sifat manusia.Karena organisasi dan lingkungan mempunyai struktur yang penting untuk mencocokan keduanya, sehingga adaptasi maksimal berlangsung.

Implikasi Bagi Perilaku Organisasi
McPhee (1985) menyebutkan unsur – unsur organisasi meliputi hal – hal seperti;
  • Nama – nama resmi pekerjaan,
  • Deskripsi,
  • Tujuan bagi pegawai,
  • Kondisi – kondisi pekerjaan atau kontrak pekerjaan,
  • Pembedaan pekerjaan berdasarkan divisi/bagian/unit kerja,
  • Buku prosedur pengoperasian organisasi,
  • Anggaran dasar maupun anggaran rumah tangga organisasi,
  • Dan dokumen – dokumen lain yang menetapkan landasan hukum organisasi.
Organisasi harus mengurus lingkungan eksternal  dan menggunakan strategi adaptatifnya yang terbaik untuk tumbuh dan terus hidup. Implikasi utama yang harus diingat adalah bahwa bila lingkungan diciptakan, maka ada kemungkinan untuk menganggap perubahan organisasi sebagai suatu proses pembuatan keputusan.

 Sifat Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi lebih dari sekedar apa yang dilakukan orang – orang. Komunikasi organisasi adalah suatu disiplin studi yang dapat mengambil sejumlah arah yang sah dan bermanfaat. Studi komunikasi organisasi dianggap sebagai landasan kuat bagi karier dalam manajemen, pengembangan sumber daya manusia dan komunikasi perusahaan, dan tugas – tugas lain yang berorientasikan manusia dalam organisasi.

Fungsional Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara unit – unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu.Suatu organisasi terdiri dari unit – unit komunikasi dalam hubungan – hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.Interaksi di antara semua faktor internal maupun eksternal organisasi disebut sebagai sistem komunikasi organisasi.

Interpretif Komunikasi Organisasi
Definisi tradisional (fungsional dan objektif) menganggap bahwa komunikasi organisasi cenderung menekankan kegiatan penanganan pesan yang terkandung dalam suatu “batas organisasional”. Komunikasi organisasi jika dipandang dari suatu perspektif interpretif (subjektif) dianggap sebagai proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi. Komunikasi organisasi adalah perilaku pengorganisasian yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu bertransaksi dan memberi makna atas apa yang terjadi. Realitas (organisasi) adalah suatu konstruksi subjektif yang mampu lenyap saar anggota – anggotanya tidak lagi menganggapnya demikian yang lebih jelasnya bahwa komunikasi organisasi merupakan proses pembentukan makna atas interaksi yang menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi.

Teori Struktural Klasik
Organisasi Sosial
Istilah organisasi sosial merujuk pada pola – pola interaksi sosial (frekuensi dan lamanya kontak antara orang – orang; kecenderungan mengawali kontak; arah pengaruh antara orang – orang; derajat kerja sama; perasaan tertarik, hormat, dan permusuhan; dan perbedaan status) dan regularitas yang teramati dan perilaku sosial orang – orang yang disebabkan oleh situasi sosial mereka baik oleh karakteristik fisiologis atau psikologis mereka sebagai individu.
Berlu (1960) menyarankan bahwa komunikasi berhubungan dengan organisasi sosial melalui tiga cara:
  1. Sistem sosial dihasilkan lewat komunikasi
  2. Bila suatu sistem sosial telah berkembang, ia menentukan komunikasi – komunikasi anggotanya
  3. Pengetahuan mengenai suatu sistem sosial dapat membantu kita membuat prediksi yang akurat mengenai orang – orang tanpa mengetahui lebih banyak daripada peranan – peranan yang mereka jabat dalam sistem
Organisasi Formal
Organisasi yang sengaja dibentuk untuk mengatur sistem kerja formal yang biasa diebut sebagai birokrasi yang mana ada suatu tujuan yang ingin dicapai, peraturan – peraturan yang harus diikuti, dan struktur status secara sengaja dirancang untuk mengantisipasi maupun mengarahkan interaksi dan kegiatan – kegiatan anggota.

Karakteristik Birokrasi Weberian
Ciri – ciri organisasi terbirokrasi yang ideal menurut analisis dari karya Weber, yaitu:
  1. Suatu organisasi terdiri dari hubungan – hubungan yang ditetapkan antara jabatan – jabatan. Blok – blok bangunan dasar dari organisasi formal adalah jabatan – jabatan.
  2. Tujuan atau rencana organisasi terbagi kedalam tugas – tugas, tugas organisasi disalurkan di antara berbagai jabatan sebagai kewajiban resmi.
  3. Kewenangan untuk melaksanakan kewajiban diberikan kepada jabatan (kewenangan legal).
  4. Garis – garis kewenangan dan jabatan diatur menurut suatu tatanan hierarkis.
  5. Suatu sistem aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas yang ditetapkan secara formal, mengatur tindakan – tindakan dan fungsi – fungsi jabatan dalam organisasi.
  6. Prosedur dalam organisasi bersifat formal dan impersonal, yakni peraturan – peraturan organisasi berlaku bagi setiap orang.
  7. Suatu sikap dan prosedur untuk menerapkan suatu sistem disiplin merupakan bagian dari organisasi.
  8. Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi.
  9. Pegawai dipilih untuk bekerja dalam organisasi berdasarkan kualifikasi teknis, alih – alih koneksi politis, koneksi keluarga, atau koneksi lainnya.
  10. Meskipun pekerjaan dalam birokrasi berdasarkan kecakapan teknis, kenaikan jabatan dilakukan berdasarkan senioritas dan prestasi kerja.
Komunikasi Jabatan dan Hubungan Informal
Ciri – ciri suatu organisasi formal berkaitan dengan suatu fenomena yang disebut komunikasi jabatan (Redfield, 1953).Hubungan dibentuk antara jabatan – jabatan, bukan antara orang – orang, karena keseluruhan organisasi terdiri dari jaringan jabatan.Dalam setiap organisasi formal biasanya tumbuh pula kelompok – kelompok informal.Karena hubungan informal terbentuk sebagai respon terhadap berbagai kesempatan yang diciptakan lingkungan, organisasi formal merupakan lingkungan kelompok lebih nyata yang mempengaruhi jumlah dan pelaksanaan hubungan informal dalam organisasi.

Manajemen Ilmiah Taylor
Frederick W. Taylor (1856 – 1917) dalam bukunya yang berjudul Principles in Scientific Management, melakukan pendekatan terhadap manajemen dilakukan di sekitar lima unsur kunci yang dianalisa mengunakan analisis Sofer (1972), yaitu:
  1. Pembagian kerja, dalam hal ini menyangkut bagaimana tugas, kewajiban dan  pekerjaan organisasi didistribusikan. Taylor menyatakan bahwa pekerja harus dibebaskan dari tugas perencanaan dan kegiatan tata usaha. Bila dapat dilakukan, pekerjaan setiap orang dalam organisasi harus terbatas pada pelaksanaan suatu fungsi, yang merupakan konsep pembagian kerja.
  2. Proses Skalar dan Fungsional, dalam hal ini berkaitan dengan pertumbuhan vertikal dan horisontal organisasi. Proses skalar menunjukkan rantai perintah atau dimensi vertikal organisasi. Pembagian kerja ke dalam tugas – tugas yang lebih khusus dan pembentukan kembali bagian – bagian lebih lebih khusus menjadi unit – unit yang sesuai adalah hal – hal yang berkaitan dengan proses – proses fungsional dan proses ekspansi horisontal organisasi, yang mana perubahan ini berhubungan dengan pilar keempat teori manajemen klasik.
  3. Struktur, dalam hal ini berkaitan dengan hubungan – hubungan logis antara berbagai fungsi dalam organisasi. Teori – teori klasik berfokus pada dua struktur dasar yang disebut lini dan staf. Struktur lini menyangkut saluran – saluran kewenangan organisasi yang berkaitan dengan pencapaian tujuan utama organisasi. Sedangkan struktur staf menunjukan jabatan – jabatan yang memberikan bantuan kepada jabatan – jabatan lini untuk melaksanakan pekerjaan mereka dengan lebih baik, dengan memberikan pertimbangan, bantuan dan pelayanan.
  4. Struktur Tinggi dan Struktur Datar, terdapat berbagai bentuk struktur organisasi namun pada dasarnya terbagi dua, yaitu struktur tinggi (vertikal) dan struktur datar (horisontal). Tinggi atau datarnya suatu organisasi ditentukan oleh perbedaan dalam jumlah tingkatan kewenangan dan variasi dalam rentang pengawasan pada setiap tingkat. Organisasi berstruktur tinggi sering ditandai dengan pengawasan yang ketat, semangat kelompok, persaingan melalui hubungan pribadi, pertambahan tanggung jawab secara bertahap, ketidakamanan yang konstan mengenai status, penekanan pada teknik manajemen, dan banyaknya peraturan. Sedangkan organisasi berstruktur datar ditandai dengan aktivitas individualistik dan usaha yang dianjurkan yang mana memiliki pengawasan yang standar dan lebih sedikit peraturan.
  5. Rentang Pengawasan, dalam hal ini menunjukkan jumlah bawahan yang berada di bawah pengawasan seorang atasan.
Teori Transisional

Teori Perilaku
Teori Komunikasi-Kewenangan Chester Barnard
Dalam buku The Functions of the Executive, C. Barnard (1938) menyatakan bahwa organisasi adalah sistem orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis. Kelompok – kelompok alamiah dalam struktur birokrasi dipengaruhi oleh apa yang terjadi, komunikasi ke atas, dan pemimpin yang berfungsi sebagai kekuatan yang padu. Barnard mendefinisikan organisasi formal sebagai suatu sistem kegiatan dua orang atau lebih yang dilakukan secara sadar dan terkoordinasikan yang menitikberatkan konsep sistem dan konsep orang. Bernard menyatakan bahwa eksistensi suatu organisasi (sebagai suatu sistem kerja sama) bergantung pada kemampuan manusia untuk berkomunikasi dan kemauan untuk bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan yang sama pula. Bernard juga merumuskan seperangkat premis yang dikenal sebagai Teori Penerimaan Kewenangan yang mempunyai maksud bahwa kewenangan yang berasal dari tingkat atas organisasi sebenarnya merupakan kewenangan nominal yang mana kewenangan menjadi nyata apabila diterima. Premis – premis tersebut, yaitu:
  • Orang tersebut memahami pesan yang dimaksud
  • Orang tersebut percaya bahwa pesan tersebut tidak bertentangan dengan tujuan organisasi
  • Orang tersebut percaya, pada saat ia memutuskan untuk bekerja sama, bahwa pesan yang dimaksud sesuai dengan minatnya
  • Orang tersebut memiliki kemampuan fisik dan mental untuk melaksanakan pesan
Teori Hubungan Manusiawi Elton Mayo
Melalui penelitian berskala besar yang membahas produktivitas dan hubungan – hubungan sosial di komplek Hawthorne yang dimiliki Western Electric Company yang dikenal dengan nama “ Manajemen dan Pekerja” yang dibantu oleh F. Roethlisberger dan Dickson (1939) telah membuktikan bahwa suatu struktur informal hubungan sosial memang ada di balik struktur organisasi yang formal dan bahwa banyak fenomena tidak dapat dijelaskan dengan dalil – dalil lainnya.

Teori Fusi Bakke dan Argyris
Bakke (1950) menyarankan suatu proses fusi yang menyatakan bahwa organisasi, hingga suatu tahap tertentu, mempengaruhi individu, sementara pada saat yang sama individu pun mempengaruhi organisasi. Argyris (1957) menyempurnakan karya Bakke dengan berpendapat bahwa ada suatu ketidaksesuaian yang mendasar antara kebutuhan pegawai yang matang dengan persyaratan formal organisasi

Teori Peniti Penyambung Likert
Rensis Likert mengembangkan suatu model terkait dengan sebutan model peniti penyambung yang menggambarkan struktur organisasi.Struktur peniti penyambung menunjukkan hubungan antarkelompok yang menggalakkan orientasi ke atas daripada ke bawah; komunikasi, pengaruh pengawasan, dan pencapaian tujuan diarahkan ke atas dalam organisasi.

Teori Sistem
Scott (1961) menyatakan bahwa “satu – satunya cara yang bermakna untuk mempelajari organisasi adalah sebagai suatu sistem”. Ia mengemukakan bahwa bagian – bagian penting organisasi sebagai sistem adalah individu dan kepribadian setiap orang dalam organisasi; struktur formal; pola interaksi yang informal; pola status dan peranan yang menimbulkan pengharapan – pengharapan; dan lingkungan fisik pekerjaan.
Bagian – bagian suatu sistem organisasi menurut Scott;
  1. Nonsumativitas; bahwa suatu sistem tidak sekedar jumlah dari bagian – bagiannya.
  2. Unsur – unsur struktur, fungsi, dan evolusi; merujuk kepada hubungan antarkomponen suatu sistem.
  3. Keterbukaan; organisasi adalah sistem sosial yang batas – batasnya dapat ditembus untuk memungkinkan organisasi berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga memperoleh energi dan informasi.
  4. Hierarki; suatu sistem mungkin merupakan suatu suprasistem bagi sistem – sistem lain di dalamnya, juga merupakan suatu subsistem bagi suatu sistem yang lebih besar.
Teori Sistem Sosial Katz dan Kahn
Menurut pendapat mereka, bahwa struktur sosial berbeda dengan struktur mekanis dan struktur biologis. Bila suatu sistem sosial berhenti berfungsi, maka ia tidak lagi mempunyai struktur yang dapat di identifikasi karena sistem sosial merupakan struktur peristiwa alih – alih merupakan bagian – bagian fisik, dan tidak mempunyai struktur yang terpisah dari kegiatannya. Teori ini menyadari bahwa suatu keadaan yang terorganisasikan perlu mengenal berbagai hambatan untuk mengurangi komunikasi secara acak ke saluran – saluran yang sesuai untuk pencapaian tujuan organisasi.

Ad-hokrasi dan Teori Buck Rogers
Organisasi matriks, organisasi kisi – kisi, organisasi proyek, dan organisasi ad-hokrasi adalah organisasi – organisasi komunikasi saat ini dan masa depan. Dalam keadaan demikian, studi komunikasi adalah studi organisasi. Manajemen dalam konfigurasi matriks dan kisi – kisi adalah praktik komunikasi organisasi. Praktik – praktik organisasi masa kini menegaskan prediksi teoritis terdahulu; fungsi pertama seorang eksekutif adalah menciptakan dan memlihara suatu sistem komunikasi. Komunikasi sistem adalah organisasi, komunikasi organisasi adalah teori Buck Rogers mengenai organisasi.

Teori Mutakhir
Teori Weick Mengenai Pengorganisasian
Konsep Organisasi
Weick (1979) menyatakan bahwa “kata organisasi adalah kata benda, kata ini juga merupakan suatu mitos. Bila anda mencari organisasi, anda tidak akan menemukannya. Yang akan anda temukan adalah sejumlah peristiwa yang terjalin bersama – sama, yang berlangsung dalam kawasan nyata; urutan – urutan peristiwa tersebut, jalur – jalurnya, dan pengaturan temponya, merupakan bentuk – bentuk yang seringkali kita nyatakan secara tidak tepat bila kita membicarakan organisasi. Fokusnya jelas yaitu pengorganisasian alih – alih organisasi. Proses pengorganisasian menghasilkan apa yang dinamakan organisasi.
Organisasi adalah suatu sistem yang menyusaikan dan menopang dirinya dengan mengurangi ketidakpastian yang dihadapinya.Ini merupakan suatu sistem mengenai “perilaku – perilaku yang bertautan”, dan ini merupakan kunci bagi berfungsinya organisasi tersebut.

Pengorganisasian terdiri dari penyesuaian dengan suatu lingkungan yang diperankan, yaitu lingkungan yang terbentuk oleh tindakan – tindakan para aktor manusia yang paling bergantung (Weick, 1969:27).  Weick (1979) mendifinisikan pengorganisasian “sebagai suatu gramatika yang disahkan secara mufakat untuk mengurangi ketidakjelasan dengan menggunakan perilaku – perilaku bijaksana yang saling bertautan. Pengesahan secara mufakat berarti realitas organisasi muncul dari pengalaman yang dijalani bersama dan disahkan oleh orang lain melalui sistem – sistem lambang. Gramatika berarti sejumlah aturan, konvensi, dan praktik organisasi yang membantu orang – orang melaksanakan tugas mereka dan menjadi dasar untuk menasirkan apa yang telah dilaksanakan. Ketidakjelasan berarti tingkat ketidakpastian yang dihadapi para anggota organisasi. Pengorganisasian membantu mengurangi ketidakpastian tentang informasi yang diperolah para anggota organisasi ketika  mereka mencoba membuat keputusan untuk keselamatan dan keberhasilan organisasi.

Proses Pengorganisasian
Weick (1979) menyebutkan tiga tahap utama dalam proses pengorganisasian, yaitu:
  • Tahap pemeranan secara sederhana berarti para anggota organisasi menciptakan ulang lingkungan mereka dengan menentukan dan merundingkan makna khusus bagi suatu peristiwa.
  • Tahap seleksi, aturan – aturan dan siklus komunikasi digunakan untuk menentukan dan merundingkan makna khusus bagi suatu peritiwa.
  • Tahap retensi memungkinkan organisasi menyimpan informasi mengenai cara berorganisasi tersebut memberi respon atas berbagai situasi.
Sifat Organisasi/Manusia
Weick menyatakan bahwa organisasi tidak hanya berinteraksi dengan lingkungan mereka, tetapi organisasi menciptakan lingkungan tersebut. Proses – proses kreatif/adaptasi dalam aturan – aturan dan siklus komunikasi menghasilkan konsep akhir yang sama. Karakter sistemik suatu organisasi merupakan suatu karakter yang diurutkan secara cermat dan memungkinkan setiap unit terikat erat dengan sesamanya, sistem semacam ini disebut terangkai erat. Rangkaian – rangkaian ini merujuk kepada proses – proses yang mempengaruhi perilaku bersama komponen – komponen organisasi. Weick (1985) menyatakan bahwa dalam diskusi – diskusi mutakhir mengenai organisasi, realitas dipandang:
  • Sebagai sebuah himpunan resep yang berubah bila isu berubah
  • Sebagai dalih untuk menarik minat sumber daya dan legitimasi
  • Sebagai suatu proses pascatindakan yang digunakan secara retospektif untuk menentukan alasan atas tindakan tersebut
Organisasi dapat berupa anarki, tetapi anarki yang diorganisasikan.Organisasi dapat berupa rangkaian longgar, tetapi rangkaian longgar ini ada dalam suatu sistem.Organisasi dapat melakukan pengambilan keputusan sembarangan, tetapi berdasarkan batas – batas yang membentuk suatu struktur (Weick, 1985).
Implikasi – Implikas bagi Komunikasi Organisasi

Mempelajari organisasi adalah mempelajari perilaku pengorganisasian, dan inti perilaku tersebut adalah komunikasi.Menurut Weick (1977a),”orang – orang memahami sesuatu melalui pengalaman dengan bantuan pemutusan dan penyatuan. Pemutusan berarti memotong kumpulan pengalaman menjadi satuan – satuan yang pantas, dapat diberi julukan, dapat dinamai dan tindakan penyatuan meliputi penentuan hubungan – hubungan, khususnya hubungan – hubungan kausal di antara komponen – komponen terputus”.

Teori Kultural Organisasi
Sackmann (1991) menyatakan bahwa nilai konsep budaya organisasi bagi para peneliti dan para praktisi lebih bergantung pada penelitian empiris yang dilakukan daripada atas pendapat – pendapat yang diperdebatkan.Langkah – langkah ke arah kritik dan perbaikan lebih meningkatkan konsep budaya organisasi daripada sebagai tanda kehancurannya.Bila suatu organisasi memiliki suatu budaya dan ketahanannya bergantung pada kemampuannya untuk berubah, maka pertanyaan mengenai bagaimana mengubah budaya merupakan hal yang kritis.Gagasan mengenai perubahan budaya juga memberi dorongan pada penelitian tentang simbolisme organisasi dan maknanya.

Konsep Budaya Organisasi
Smiricich dan Calas (1987) menyatakan bahwa budaya dapat diuji sebagai sebuah variabel atau suatu metafora dasar.Bila dipandang sebagai suatu variabel eksternal, budaya adalah sesuatu yang dibawa masuk ke dalam organisasi, sedangkan bila dipandang dari sudut internal, penekanannya diletakkan pada wujud – wujud budaya (ritual, kisah – kisah) yang dikembangkan dalam organisasi.Setiap organisasi memiliki satu budaya atau lebih yang memuat perilaku – perilaku yang diharapkan, tertulis atau tidak tertulis.

Implisit dalam konsep budaya adalah suatu apresiasi tentang cara organisasi dibentuk oleh perangkat – perangkat khas nilai, ritus, dan kepribadian. Louis (1985) menyatakan bahwa budaya suatu kelompok dapat digolongkan sebagai seperangkat pemahaman atau makna yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang. Smirch berpendapat bahwa budaya bukan sekedar sesuatu yang dimiliki organisasi, tetapi juga sesuatu yang merupakan proses pemahaman organisasi

Implikasi – Implikasi bagi Komunikasi Organisasi
Peranan komunikasi dalam budaya organisasi dapat dilihat secara berlainan bergantung pada bagaimana budaya dikonsepsikan.Kita perlu mengetahui dan mampu menasirkan bagaimana organisasi menggunakan bahasa, mereka yang terlibat dalam perubahan organisasi pasti harus mengenali dan berurusan dengan budaya organisasi.Dari pandangan tradisional, suatu organisasi tertentu mungkin tampak tidak rasional dan tidak terorganisasi, tetapi organisasi ini mungkin telah membentuk suatu budaya yang bermanfaat bagi organisasinya. Bahkan komunikasi yang tampak sembarangan, bertentangan, dan konyol dapat menjalankan fungsi – fungsi pentingnya bagi para anggota sebuah organisasi

Komunikasi Organisasi dan Motivasi
Dari semua isu dalam bidang komunikasi, manajemen, dan kepemimpinan, barangkali isu paling populer adalah motivasi. Motivasi, merupakan faktor – X dalam efisiensi (faktor yang menjelaskan kesedian anggota organisasi untuk mencurahkan energi yang berbeda bagi pekerjaan mereka, prinsip direksi usaha pekerja), dapat dijelaskan dengan berbagai cara. Terdapat lima teori motivasi yang mengasumsikan bahwa orang lebih bersedia bertindak ketika mereka mempunyai kekurangan dalam kebutuhan mereka. Sebagian berpendapat bahwa suatu kebutuhan yang terpenuhi bukanlah suatu motivator. Adapun teori – teori tersebut akan dijabarkan di bawah ini ;
  1. Teori Maslow (1943), teori yang membahas mengenai hierarki kebutuhan mengasumsikan lima kebutuhan internal yang diurutkan berdasarkan kepentingannya (prepotensi). Maka, kebutuhan fisiologi merupakan dasar tindakan hingga kebutuhan tersebut terpenuhi, pada saat mana kebutuhan akan keselamatan – keamanan berfungsi sebagai dasar tindakan. Ketika kebutuhan itu terpenuhi, kebutuhan akan rasa memiliki dan penghargaan mendorong tindakan, dan setelah kebutuhan itu terpenuhi, kebutuhan akan aktualisasi diri mulai dirasakan.
  2. Teori ERG Alderfer (1972), teori ini membahas mengenai motivasi merangkum suatu rentang kebutuhan yang serupa dengan yang diungkapkan Maslow, namun mengabaikan gagasan tentang hierarki dan berpendapat bahwa suatu kebutuhan yang terpenuhi dapat terus berlangsung memotivasi tindakan, dan beberpa kebutuhan seperti pertumbuhan; cenderung menjadi lebih intens ketika telah terpenuhi. Menurut teori Alderfer, kepuasan karena telah terpenuhinya kebutuhan dapat merupakan dasar bagi motivasi yang meningkat.
  3. Teori kepuasan-ketidakpuasan Herzber (1966), teori ini mengasumsikan dua perangkat kebutuhan, yang menyangkut kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja. Kepuasan kerja adalah motivator primer, dan menurut teorinya, itu berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri. Sebaliknya, ketidakpuasan pada dasarnya berkaitan dengan memuaskan anggota organisasi dan menjaga mereka tetap dalam organisasi, dan itu berkaitan dengan lingkungan.
  4. Teori harapan Vroom (1964), teori ini menyarankan bahwa anggota organisasi akan termotivasi bila mereka percaya bahwa tindakan merka akan menghasilkan hasil yang dinginkan, bahwa hasil mempunyai nilai positif bagi mereka, dan bahwa usaha yang mereka mau curahkan akan mencapai hasil.
  5. Teori persepsi Pace (1993), teori ini menjelaskan motivasi dalam arti bagaimana anggota organisasi menafsirkan lingkungan kerja mereka. Empat potensialitas disebutkan: seberapa baik harapan terpenuhi, peluang apa yang tersedia, seberapa banyak pemenuhan yang terjadi, dan seberapa baik peranan – peranan organisasi yang bermanfaat dilaksanakan. Keputusan untuk mencurahkan energi guna mencapai tujuan organisasi merupakan suatu fungsi kombinasi persepsi atas keempat potensialitas tersebut.
Perbedaan penting antara organisasi yang efisiensi – X dan yang inefisiensi – X terletak pada prinsip kebijaksanaan usaha pekerja yang mengatakan bahwa kinerja pegawai bergantung pada seberapa baik mereka termotivasi, sedangkan teori ekonomi tradisional mengasumsikan bahwa usaha kerja adalah tetap.

Apa Yang Memotivasi Pekerja
Kovach (1980) menyatakan bahwa sikap pegawai dan faktor sebenarnya yang memotivasi pegawai berubah lebih cepat daripada kecepatan perubahan pengetahuan penyelia mengenai apa yang memotivasi pekerja. Motivasi seseorang yang merupakan usaha yang diarahkan terhadap suatu tujuan dengan adanya suatu fungsi harapan bahwa suatu investasi energi tertentu akan menghasilkan pencapaian tujuan tertentu

Sabtu, 29 September 2012

Perspektif Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi

Oleh : Dr. Prahastiwi Utari #


Pendahuluan
            Sebagai orang yang mempelajari ilmu komunikasi, perkembangan di dalam rumpun bidang keilmuan ini dapat diamati salah satunya melalui perkembangan teori teori komunikasi yang ada di dalamnya.
            Salah satu yang menarik perhatian adalah seorang ilmuwan komunikasi Stephen W. Littlejohn. Beliau adalah salah satu ilmuwan yang paling produktif dalam pengembangan ilmu komunikasi. Buku hasil karyanya Theories of Human Communication sudah diterbitkan dalam 10 edisi (edisi terakhir tahun 2011) yang setiap  edisinya menambahkan perkembangan teori komunikasi baru. Belum lagi buku buku lain yang mengimbangi buku utama ini.
            Perubahan besar terjadi dalam Edisi 8 (2005) buku Littlejohn tentang Theories of Human Communication, dia merubah secara keseluruhan struktur berpikirnya yang telah dituangkan dalam 7 edisi sebelumnya. Perombakan besar-besaran dalam keseluruhan struktur dan isi teori yang telah dikembangkan. Jika sebelum Edisi 8 Littlejohn selalu menekankan bahwa teori komunikasi harus dilihat berdasarkan level komunikasinya, maka dalam Edisi 8 ini semua ditinggalkan. Dapat disimpulkan pasti ada sesuatu pergulatan besar dalam diri seorang Littlejohn sehingga merubah pola pikir yang sudah dibangunnya dalam tataran dunia teori komunikasi.
            Ilmuwan lain yang juga mengalami hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Littlejohn adalah EM Griffin, seorang profesor emeritus komunikasi dari Wheaton College, Illinois. Beliau juga merubah (ini dikatakannya sebagai major changes) tatanan bangunan teori dalam bukunya A First Look at Communication Theory mulai Edisi 4 (2000) dari bukunya hingga Edisi 7 terbitan tahun 2009.
            Yang menjadi pertanyaan kemudian bagi mereka yang mempelajari ilmu komunikasi adalah: Apa yang menyebabkan kedua ilwuwan komunikasi ini sampai merubah pola berpikir mereka tentang tatanan teori yang telah mereka bangun dan kembangkan selama ini?  Keyakinan-keyakinan ilmiah macam apa yang memberikan kebenaran pada mereka untuk melakukan perombakan besar-besaran bagi tataran keilmuan yang  mereka kembangkan. Apa konsekuensinya bagi kita sebagai pembaca atau reader dari buku-buku mereka ini ?

Akar Masalah: Komunikasi sebagai Multidisiplin.
            Perdebatan panjang bahwa studi komunikasi memiliki sifat multidisiplin di awal perkembangan ilmu komunikasi sangat disadari bahkan memperoleh keyakinan dan dukungan di antara ilmuwan komunikasi sendiri.  Ilmu komunikasi adalah ilmu yang bersifat multidisiplin. Dalam buku Frank E.X Dance berjudul Human Communication Theory: Comparataive Essays (1982),  Littlejohn sangat meyakini bahwa studi komunikasi adalah studi yang interdisiplin atau multidisiplin. Dia mengatakan, The study of communication constitutes an interdiscipline, in which communication process are inverstigated using insight from several traditional discipline (Littlejohn, 1982: 244).
Dia menjelaskan bahwa kajian komunikasi merupakan pertemuan pucuk-pucuk dari disiplin ilmu murni sosiologi, antropologi, psikologi dan filsafat (Ibid.: 245). Masih menurutnya bahwa sifat multidisiplin ini memiliki keuntungan karena dapat menjelaskan kegiatan scope kajian tentang komunikasi menjadi sangat luas. Tidak ada single teori, bahkan dengan cara seperti ini justru dapat menggambarkan suatu proses komunikasi yang komprehensif (Ibid.: 245). 
            Dengan berjalannya waktu dibagian lain bukunya yaitu Theories of Human Communication Edisi 2 (1983), Littlejohn  mulai melihat memang ada celah lemah dengan sifat multidisiplin dari kajian komunikasi. Dia menuliskan antara lain:
Although scholars from a number of disicipline share an interest in communication, the scholar’s first loyalty is usually to general concepts of the discipline itself. Communication is generally considered subordinate. For example, psychologist study individual behavior and view communication as a particular kind of behavior. Sociologist focus on society and social process, seeing communication as one of several social factors. Anthropologist are interested primarily in culture, and if they investigate communication they treat it as an aspect of broader themes (Ibid., 1983: 5)

            Littlejohn mulai galau dengan sifat multidisiplin kajian komunikasi ketika dia menyadari akhirnya para ilmuwan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu yang ada, yang memberi perhatian pada kajian komunikasi, hanya menganggap kajian komunikasi ini bukanlah kajian utama mereka. Kajian komunikasi hanya merupakan bagian kecil saja dari interest mereka sebagai suatu ilmuwan dari disiplin tertentu. Littlejohn sangat merasakan kajian komunikasi hanya menjadi kajian yang punya posisi subordinat dari kajian ilmu-ilmu yang masuk ke dalamnya.
Kegalauan tentang multidisiplin kajian komunikasi ini juga dirasakan oleh E.M Griffin. Dalam bukunya A First Look at Communication Theory  Edisi 4 (tahun 2000) dia mulai menyadari tentang keterbatasan dalam mengkaji teori komunikasi karena sifat multidisiplin ini. Griffin mengatakan bahwa, “there’s little dicipline in our discipline (2000: 34). Hal ini terjadi karena menurutnya ilmuwan komunikasi itu memiliki pandangan yang divergen tentang apa itu komunikasi, sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Menjadi sangat sulit kemudian untuk melakukan pemetaan wilayah kajian teori komunikasi karena bisa saja para ilmuwan ini tidak setuju pada pada suatu teori karena tidak sesuai dengan pengalaman mereka.
Gugatan tentang sifat multidisiplin kajian komunikasi coba dijawab Robert T.Craig, seorang Professor Komunikasi dari University of Colorado, melalui serangkaian penelitian. Ia menemukan banyak sekali pendidikan tinggi yang menawarkan pendidikan komunikasi dan banyak sekali text book yang membahas teori-teori komunikasi. Tetapi diantara ini semua dia menemukan bahwa berbagai teori yang diajarkan dari berbagai pendidikan ini semua berjalan sendiri sendiri, Craig menyebutnya there is no consensus on the field. Teori komunikasi sangat kaya dengan ide-ide tetapi gagal dalam jumlah cakupannya. Teori komunikasi tumbuh terus tetapi belum memberikan pemahaman apa sesungguhnya teori komunikasi itu.           
Craig menuliskan apa yang ditemukannya ini dalam bukunya  Communication Theory as a Field (1999). Dengan tegas dia mengatakan bahwa communication theory is not yet a coherent field of study seems inescapable (Craig, 1999: 64). Craig melihat bahwa tidak adanya koherensi dalam kajian komunikasi karena sifat multidisiplin yang dibawa oleh masing masing ilmuwan yang sering salah dalam penggunaannnya tetapi terus dipupuk dan dipertahankan.

Elaborasi Teori: Perspektif Tujuh Tradisi
            Dengan keprihatinan inilah Robert T Craig secara optimis menawarkan communication theory as a field of study that integrattes seven traditions of thought with share focus on practical communication problems (Ibid.: ix). Menurutnya  bahwa sebagai suatu kajian, ilmu komunikasi dapat memiliki teori yang koheren melalui suatu proses yang digambarkannya:
A field will emerge to the extent that we increasingly enggage as communication theoriests with socially important goals, questions, and controversies that cut across the various disciplinary traditions , substantive specialities, methodologises, and school of thought that presently divide us. (Ibid.: 64)

            Komunikasi memungkinkan muncul sebagai suatu bidang kajian yang utuh asal ada kesadaran dari masing masing ilmuwan yang terlibat di dalamnya bahwa mereka memiliki tujuan, permasalahan atau bahkan perbedaaan yang dapat mengeluarkan mereka dari belenggu masing masing disiplin ilmu yang memisahkan diantara mereka.  Dibutuhkan dua persyaratan untuk melihat teori komunikasi sebagai suatu kajian keilmuan. (1) a common understanding of the similarities and differences among theories, Metamodel (model of models) (2). A new definition of theories , theories are form of discourse; a discourse about discourse (Metadiscourse) (Ibid., 2007: 67-69).

Craig: Dialogical vs dialectical
            Dalam mengawali idenya tentang tradisi teori komunikasi, Craig terlebih dahulu menggambarkan dengan jelas apa yang dimaksudkannya dengan tradisi. Menurutnya tradisi adalah something handed down from the past, but no living tradition is statis. Traditions are constantly changing (Ibid.: xiii). Sesuatu yang sudah kita miliki sejak dulu (waktu sebelumnya), yang tidak statis tetapi terus berkembang sesuai dengan jaman. Lebih jauh Craig menegaskan bahwa traditions are not homogeneous. Every tradition is characterized by a history of argument about beliefs and values that are important to the tradition. Ini lebih menjelaskan bahwa dalam memelihara suatu tradisi peran nilai nilai yang sudah ada menjadi hal utama yang harus diperhatikan.
Untuk setiap tradisi yang diungkapkannya Craig memberikan indikator dari masing-masing antara lain dengan karakteristik definisi komunikasi dan hubungan yang terbentuk karena definisi tersebut; metadiskursif vacobulary, hal yang tidak bisa digugat (taken for granted) dalam metadikursif komunikasi dan penempatan metadiskursif dari masing-masing tradisi yang menunjukkan sisi menarik atau menantangnya (Ibid.: 72).
Gambaran perspektif yang diungkapkan oleh Craig ini disarikan oleh Miller (2005: 13) dalam bentuk seperti tabel di bawah ini:

Conceptual Domains of Communication Theory

Communication theory as
Problems of Communication Theory as
Rhetorical
The practical art of discourse
Spcial exigency requiring collective deliberation and judment
Semiotic
Intersubyective mediation signs
Misunderstanding or gap between subjective viewpoints
Phenomenological
Experience of otherness;dialogue
Absence of, or failure to sustain, authentic human relationship
Cybernetic
Information processing
Noise, overload, underload, malfunction or bug in a system.
Sociopsychological
Expression, interaction and influence
Situation requiring manipulation of causes of behavior to achieve specified outcomes.
Sociocultural
(Re)production of social order
Conlict, alineation, misalignment; failure of coordination
Critical
Discusive reflection
Hegemonic ideology, systematically distoted speech communication
Sumber: Miller (2005: 13)
Perlu ditekankan di sini dalam memandang penempatan masing-masing tradisi keilmuan komunikasi Craig mendasarkan pada konsep praktek komunikasi sehari hari dan sesuai dengan perkembangan dari tradisi itu sendiri. Untuk itulah dia menempatkan tradisi retorika sebagai tradisi pertama dalam peletakannya karena menimbang retorika adalah praktek komunikasi yang paling jelas terlihat dan telah ada begitu lama sebagai sebuah tradisi. Dengan logika semacam ini pula bahwa tradisi kritikal mendapat tempat terakhir dalam penempatan Craig karena dianggapnya paling sikit (kurang) sebagai suatu bentuk praktek komunikasi dan juga muncul sebagai tradisi yang cukup baru.
            Titik tolak lain yang juga harus diperhatikan dalam kajian Craig ini dia selalu menempatkan manakala tradisi-tradisi ini saling bertentangan atau juga tidak memenuhi kriteria yang ada maka langkah penting yang harus dilakukan adalah dengan cara dialog dan dialektikal. Kesadaran untuk saling melengkapi satu sama lain dan memberikan perhatian untuk perbedaan dari masing-masing teori.

Littlejohn: Similarities vs Differences
            Biarpun sedikit terlambat di banding ilmuwan lain, Littlejohn mulai merespon ide Craig untuk menghilangkan sekat ‘multidisiplin’ kajian teori komunikasi pada bukunya Human Communication Theory Edisi 7 (2002). Dalam buku ini baru sedikit saja ide Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi dimunculkan, yaitu hanya pada Bab I Communication Theory and Scholarship, poin Communication Theory as a Filed (Ibid.: 12-15).  Di sini ia mengakui bahwa Craig proposes a vision for communication theory that takes a huge step toward unifying our otherwise disparate field (Ibid.: 12)
            Kejelasan dari pemahaman Littlejohn tentang Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi ini dilakukannya dengan merubah secara besar-besaran bukunya Theory of Human Communication Edisi 8 (2005). Dalam menjelaskan teori komunikasi dari Littlejohn tidak lagi berdasarkan tingkatan atau levels komunikasi tetapi pengelompokan suatu teori komunikasi dilakukan berdasarkan pengelompokkan di masing-masing tradisi. Littlejohn secara tegas mengatakan bahwa we particularly like Robert Craig’s model because it offers a way of looking at and reflecting on the communication field in a holistic way (2009: 34).
Kata kunci yang dipegang Littlejohn dalam menerapkan Perspektif Tujuh Tradisi Komunikasi adalah (1) a common understanding of similarities and differences, or tension points among theories (2) a commitmen to manage these tensions through dialogue (2008: 6). Berpegang pada prinsip perbedaan dan persamaan suatu teori bagi Littlejohn tidak hanya berdasarkan dari daftar (list) yang membedakan atau menyamakan saja, tetapi lebih pada kesamaan ide mengapa suatu teori itu memiliki kesamaan ataupun perbedaan.
Hal ini disebut Littlejohn sebagai Metamodel atau model dari model telah ada. Metamodel ini menyediakan pola-pola yang koheren yang dapat menolong menyatukan definisi isu-isu dan asumsi-asumsi yang ada dalam teori komunikasi. Sisi lain  yang perlu diperhatikan juga adalah konsep definisi suatu teori. Teori tidak hanya dipandang sebagai suatu penjelasan atau proses belaka, melainkan harus dilihat sebagai suatu statement atau argumen yang mendukung suatu pendekatan. Teori menjadi bentuk diskursus atau lebih khusus lagi sebaga suatu metadiskursus.
            Melalui pemikiran Craig ini Littlejohn meyakini bahwa Perspektif Tujuh Tradisi Teori Komunikasi dapat berguna sebagai a guide and tool for looking at the assumption, perspectives and focal points of communication theories to be able to see their similarities and differences (2008: 33). Karena Littlejohn berpegang pada konsep kesamaan dan perbedaan dari masing-masing teori dalam suatu tradisi maka menurutnya ke tujuh tradisi dalam teori komunikasi itu dapat dimulai dari semiotik, phenomenologi, cybernetic, psikologisosial, sosio-kultural, critical dan rhetorika.
Misal antara tradisi semiotika dan phenomenologi berdekatan karena secara persamaan kedua tradisi ini membicarakan bagaimana memaknai suatu simbol, sedang dari perbedaan bahwa dalam tradisi semiotik pemaknaan timbul karena tanda atau simbol itu sendiri sedangkan dalam tradisi phenomenologi pemaknaan dilakukan secara efektif, disengaja sesuai dengan pengalan masing-masing individu.

Griffin: Obyektif vs Interpretif.
            Griffin jauh lebih cepat dibandingkan dengan Littlejohn dalam merespon ide Craig. Setahun setelah Craig menuliskan idenya (1999) Griffin dalam bukunya A First Look at Communication Theory  Edisi 4 (tahun 2000) memasukan ide ini sebagai salah satu bagian dari chapter bukunya. Dalam hal ini Griffin sangat menyanjung Craig dengan mengatakan, “Craig offers a more sophisticated solution” (2009: 41).
            Mengapa Griffin mendukung ide Craig karena menurutnya pendekatan Craig ini menggunakan apa yang sudah dilakukan dalam problem dan praktek komunikasi sehari-hari. Jadi menurut Griffin apa yang ada dalam Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi ini merupakan tujuh tradisi yang sudah dilakukan sebelumnya. Yang terpenting adalah bahwa tradisi dalam teori komunikasi ini menawarkan perbedaan, yaitu perbedaan dalam cara-cara mengkonseptualkan problem dan praktek komunikasi. Dari sini akan muncul kesadaran setiap ilmuwan yang berbicara dalam tiap tradisi tidak akan memandang lagi keilmuannya secara terkotak-kotak sesuai asal mereka.
            Dalam menerima ide Tujuh Perspektif Tradisi dalam Teori Komunikasi, Griffin tetap memegang komitmen awal dari apa yang telah diajarkannya bahwa dalam melihat teori  harus membedakannya berdasarkan pendekatan obyektif ataukah interpretif. Ciri-ciri pendekatan objektif menurutnya antara lain the assumption that truth is singular and accessible through unbiased sensory observation; committed to uncovering cause and effect relationship (2009: 14), teori-teori yang bersifat positivis dan berprinsip pada hipothetico deductive verificative. Hubungan antara peneliti dengan yang diteliti terpisah dimana peneliti berada di luar obyek yang diteliti. Pendekatan interpretif  merupakan the linguistic work of assigning or value to communicative texts; assumes that multiple meaning or truth are possible (Ibid.: 15).
            Pengelompokan Tujuh Persepektif dalam Tradisi Komunikasi menurut Griffin menjadi tidak seperti pemikiran Craig ataupun Littlejohn. Pengelompokan masing-masing tradisi dilakukannya berdasarkan pendekatan obyektif ataukah interpretif. Hal ini dijelaskannya, “It’s important to realize that location of each tradition on the map is far from random. My rationale for placing them where they are is based on the distiction between objective and interpretive theories (2009: 51).

Tujuh Persepektif Tradisi Komunikasi
                                     

Berdasarkan pemikiran Griffin ini maka tradisi psikologi sosial dan cybernetic berada di tradisi yang paling bersifat obyektif, sedangkan phenomenology dan critical  paling bersifat interpretif.
Implikasi dalam Penelitian
            Ide Craig tentang Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi yang didukung penuh oleh Littlejohn dan Griffin selain telah membuka ruang baru untuk menghilangkan sekat-sekat multidisiplin dalam kajian komunikasi juga dapat memberikan pemahaman penggunaan  teori dalam penelitian. Sunarto (2011: 12) menyatakan bahwa model tradisi ini membantu untuk lebih memahami kaitan antar berbagai tradisi dengan implikasi berbagai teori komunikasi yang ada di dalammya dengan metode penelitian yang digunakan.
Hal ini seperti yang dilontar Griffin (2009:51) dalam kajiannya dengan memperlihatkan mana kelompok dari ke Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi yang dapat dilakukan dengan penelitian yang berdasarkan obyektif, positivis, metode kuantitatif dan mana yang interpretif dengan kekuatan pada metode kualitatif.    
           Dengan melihat bagan pemikiran dari Griffin diatas dapat dilihat bahwa tradisi psikologi sosial dimana di dalamnya terdapat banyak teori-teori komunikasi interpersonal akan lebih banyak dilakukan dengan pendekatan penelitian obyektif, kuantitatif. Sedangkan teori-teori yang berada dalam tradisi phenomenology dan critical lebih tepat dilakukan dengan pendekatan penelitian yang bersifat interpretif-kualitatif. Tradisi semiotika dan sosial-budaya akan berada dalam wilayah antara kuantitatif dan kualitatif.
            Implikasi perspektif Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi secara luas dapat diterapkan dengan berbagai paradigma penelitian yang telah dikembangkan oleh berbagai ilmuwan. Sunarto (2011: 12) melihat sangat memungkinkan muncul relasi yang signifikan antara apa yang dilihat Miller (2005) melalui paradigma postpositivistik; interpretif dan kritis dan pemikiran Griffin yang meletakan perspektif obyektif dan interpretif dalam memahami ke perspektif Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi. Tradisi yang masuk dalam ranah objektif, dapat dikatakan menggunakan positivistik dan postpositivitistik. Tradisi yang masuk subyektif.

Penutup
Kajian tentang perspektif Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi ini telah membuka sebuah ruang baru bagi kita untuk mendiskusikan perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan yang ada dalam teori-teori komunikasi tanpa memunculkan sekat-sekat keilmuan yang bersifat multidisiplin.
Keberadaan cara pandang yang diberikan Craig kemudian diikuti Littlejohn dan Griffin diharapkan dapat memicu pemikiran-pemikiran baru bagi kita yang mempelajari ilmu komunikasi dalam melihat teori komunikasi. Di samping itu perspektif ini juga akan membangun kajian yang holistik terkait dengan metode penelitian komunikasi.

Daftar Pustaka
Craig, Robert T  dan Heidi L Muller, (2007), Theorizing Communication Reading  
                  Across Traditions (Ed), Sage Publication: California.
Dance, Frank E.X, (1982), Human Communication Theory Comparative Essays, Harper Row  Publisher: London.
Griffin EM, (2009), A First Look at Communication Theory, Seventh Ed, McGraw-
                 Hill: Boston.
__________,( 2000), A First Look at Communication Theory, Fourth Ed, McGraw-Hill:  Boston.
Littlejohn, Stephen W, (1983), Theories of Human Commnucation, Second Ed,
                  Wardworth: California.
__________, (2002), Theories of Human Commnucation, Seventh Ed,  
                   Wadworth: Albuquerque, New Mexico.
__________, (2005), Theories of Human Commnucation, Eight Ed,
                   Wadworth: Albuqueque, New Mexico.
__________, (2008), Theories of Human Commnucation, Ninth Ed,
                   Wadworth: Albuquerque, New Mexico.
Karen A Foss, (2011), Theories of Human Commnucation, Tenth Ed, Waveland Press Inc, Long Grove.
___________, (2009), Encyclopedia of Communication Theory,  
                  Sage, Los angeles.
Miller, Katerine, (2005), Communication Theries, Perspectives, Process and Context,
                    2nd (ed), McGraw-Hill, International edition.
Sunarto. (2011), ”Paradigma dan Metode Penelitian Komunikasi di Indonesia”, dalam 
                   Aswad Ishak dkk, Mix Methodology dalam Penelitian Komunikasi,
                   Aspikom, Buku Litera: Yogyakarta.

# Dosen Komunikasi, Universitas sebelas Maret (Unes)