Kamis, 01 Juni 2017

Politik Bahasa Penguasa

Penulis           : Fathur Rokhman, Suratman
Penerbit         : Kompas
Tebal Buku     : 298 Halaman
Isbn                  : 978-602-412-157-0
........................................................................
Bahasa telah menjadi piranti yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Dalam aktifitasnya manusia memanfaatkan bahasa, baik dalam bentuk tulisan, lisan maupun simbol grafis. Tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan praktis berkomunikasi, bahasa juga di gunakan dalam aktifitas bernalar. Bahasa adalah gambaran proses kognitif seseorang. 

Ketika dia menyerap informasi sekaligus saat dia mengekpresikannya. Bahkan, bahasa memiliki peranan sentral dalam kehidupan spiritual manusia untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan penciptanya.Oleh karena itu, bahasa tidak dapat dipisahkan dari hal-hal ideologis bahkan supranatural.

Bahasa adalah alat bantu bagi manusia untuk mengenali diri sendiri dan hal-hal di sekitarnya.dalam kata lain bahasa dapat diartikan sebagai gambar dunia (imago muni). Hermanto (2009) menyebutkan, Ia sentral karya Wittgenstein yang pertama ini adalah teori gambar(picture theory), yaitu bahwa proposisi adalah gambar dari realitas. Suatu gambar dapat menampilkan apa yang digambarkan jika ada kesamaan struktur antara keduanya.Struktur yang dimaksud adalah susunan atau kaitan logis tertentu antara elemen-elemen yang membentuk sesuatu.

Adapun Mcluhan mengartikan medium dalam perspektif yang amat luas.Ia mengatakan bahwa bola lampu juga sebagai medium. Meski tak memiliki konten sebagaimana koran memiliki kolom dan rdio yang memiliki program, Namun lampu mampu merekayasa perilaku sosial seseorang atau kelompok.lampu yang berpijar mampu mengubah sebuah sudut yang gelap menjadi terang.sudut yang terang memungkinkan terjadinya aktifitas, pertemuan, atau perbincangan. Fungsi bahasa sebagai identitas berkait paut dengan fungsi ideologisnya. Bahasa, selain digunakan manusia untuk merespons terhadap wacana yang berkembang. Bahasa juga jadi pembeda antar kelas dan sekaligus meriwayatkan pertentangan kelas atas dengan kelas bawah.para priyai dijawa juga gemar membuat pembeda simbolik untuk mengukuhkan kekuasaan atas kawula alit. kesadaran terhadap pentingnya bahasa bermula ketika kekuasaan tiran mulai punah di sisilia,daerah koloniyunani dilaut tengah. saat itu kebebasan berbicara mulai dijunjung tinggi. sebagai respon dari kejadian itu, sejak abad ke-5 SM mulai didirikan sekolah-sekolah retorika di Athena dan wilayah kekuasaan kerajaan yunani yang berbudaya helenistis.

Bahasa sangat berkaitan dengan dunia pikiran manusia, baik dalam peroses produksi maupun resepsi bahasa.Semakin rumit konsep dalam pikiran penutur, ia akan memerlukan lebih banyak kosakata untuk menggambarkannya. Bentuk gramatikalnya juga akan bertambah sulit. ini mengakibatkan penggambaran yang seharusnya utuh menjadi separuh.dan akhirnya komunikasi pun menjadi terkendala. Dell Hymes (dalam Dijk, 2008) menyodorkan rumus Speaking untuk memahami situasi sosial yang memengaruhi makna tuturan menurutnya, upaya mencari makna pragmatik harus diimbangi dengan penyelidikan terhadap: setting (latar fisik dan batin), partisipants(aktor), keys(nada), and(tujuan akhir), act sequence(urutan tindakan), instrumentalities(saluran), norms(norma),dan genre(jenis tutur).

Tidak ada hubungan antar manusia yang lebih langgeng dari hubungan kekuasaan.sejarah kekuasaan sama tuanya dengan sejarah manusia itu sendiri.persoalaan kekuasaan hadir dalam tiap interaksi.manusia satu dengan manusia lainnya dihubungkan oleh kekuasaan: menguasai, dikuasai, atau kedua-duanya.Ambisi berkuasa melekat pada tiap manusia,menjadi penandainsani yangtampaknya akan abadi. Kemampuan merupakan kuantita-kuantita yang dimiliki individu agar dapat mengatasi tantangan dan persoalan.sebagai contoh, orang-orang astec di amerika tidak selalu memilih anggota terkekar sebagai pemimpin, keriteria demikian lebih cocok menjadi panglima pelang atau algojo. Pemimpin tertinggi lazimnya adalah anggota senior yang memiliki kepekaan tinggi akibat koneksinya dengan hal-hal magis , kemampuam magis adalah perkakas penting bagi kelompok yang kerap berhadapan dengan bencana alam.Kemampuan tersebut juga berguna dalam pertempuran.

Dalam kaitannya dengan kekuasaan, teori lain yang patut dibahas adalah produksi kultural yang dikemukakan Pierre Bourdieu. Ia menawarkan konsep strategi kekuasaan melalui penjelasan-penjelasan estetika dan selera.dengan cara itu, ia sekaligus menunjukkan bahwa kekuasaan dimainkan pada bidang kehidupan yang sangat personal. Dalam pandangan Bourdeui-jika tidak salah tafsir-jazz, ikan, marmer, dan lamborghini hanyalah simbol. Barang-barang itu digunakan sekelompok dominan untuk menegaskan bahwa dirinya jauh lebih baik dari kelompok yang terdominan dan karena mereka lebih baik, mereka berupaya meyakinkan kelompok terdominasi bahwa mereka harus diikiti,ditiruti,dan ditakuti.

Ada nasihat Machiavelli yang tampaknya begitu berguna bagi para penguasa, baik dulu maupun kini. Penguasa”katanya,”tidak perlu memiliki semua kualitas yang bagus, tetapi perlu dianggap berkualitas”. Konsep ini telah menginspirasi para penguasa di berbagai belahan dunia untuk meneguhkan kekuasaannya. Untuk mencapai tujuan itu, bahasa diberdayakan dengan sedemikian rupa. Nasihat Machiavelli dituliskan dalam the prince (Pennsylvania University) yang ditulisnya sebagai nasihat bagi raja Lorenzo de” Madici diitalia. Pandangan politiknya khas karena cenderung mendukung tiran, bertolak belakang dengan pemikir lain yang memihak rakyat. Sebagai simbol simbolik, bahasa telah digunakan para penguasa untuk mengukuhkan kekuasaanya.pengukuhan kekuasaan, pertama kali, dilakukan dengan mengendalikan nalar publik dengan wacana yang berciri absolut. 

Gill (2012) mengungkapkan, propaganda akan berfungsi efektif jika memenuhi tiga syarat.Pertama, ide atau opini harus terhubung secara kuat dengan target publik. Kedua, respons optimistis dengan ide atau pendapat diperkuat dengan manipulasi,seperti yang sering disebut dimedia dan disajikan sebagai berita, ketiga,opini disajikan secarara samar, tetapi publik tidak menyadari bahwa opini tersebut sudah di manipulasi. Adapun Jowett dan O’Donnell (2012) menganalisis bagaimana propaganda bekerja pada masyarakat modern. Hal mendasar yang dikemukakan keduanya adalah bahwa propaganda adalah struktur yang kompleks karena melibatkan isi dan bentuk pesan, agen, media, jaringan sosial dan berakhir pada respon publik sasaran.

Indonesia adalah kata benda, kata sifat, sekaligus kata kerja.sebagai kata benda, indonesia adalah wilayah dan bangsa. Kedua-duanya berwujud dan terhitung.sebagai kata kerja, indonesia adalah ikhtiar ”menjadi” bangsa yang besar dan mandiri. Sebagai kata kerja, indonesia adalah jatuh bangun sekelompok manusia terjajah yang membulatkan tekat untuk merdeka bersama-sama.

Istilah Indonesia, demikian menurut Doyin, Mukh dan Wagiran (2012), muncul pertama kali dari Journal Of The Indian Archipelago And Eastern Asia (JIAEA) yang terbit pada 1847 disingapura. Pengelola journal ini adalah James Richardson Logan, pria scotlandia. Etnograf dari inggris George Samuel Windsor Earl menulis artikel “ On The Leading Nations”. Menurut Earl sudah saatnya bagi penduduk kepulauan hindia atau kepulauan melayu untuk menggunakan nama sendiri. Earl mengajikan dua pilihan yakni Indunesia dan Malayunesia. 

Pada tahun 1884 guru besar Etnologi University Of Berlin Adolf Bastian menerbitkan buku Indonesien: Oder, Die Inseln De Malayischen archipel yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara dikepulauan itu antara 1864 hingga 1880, berkat buku inilah, nama “indonesia” populer dikalangan sarjana belanda.akan tetapi ,hingga sejauh itu “indonesia”masih dipahami sebagai sebuah satuan geografis. Indonesia belum menjadi sebuah entitas bangsa yang hidup dalam komunitas kebangsaan yang memiliki identitas, cita-cita, sekaligus “kehendak”.

Dalam catatan Hoed (2004) perhatian Soeharto terhadap bahasa sudah dimulai sejak tahun 1972. Saat menyampaikan amanat kenegaraan pada hari kemerdekaan, ia mengungkapkan bahwa ketertiban bahasa adalah salah satu kunci keberhasilan pembangunan. keberhasilan program penertiban bahasa dinilai sama pentingnya dengan program Keluarga Berencana.Ada 3 terma yang jadi visi utama amanat Soeharto, yakni”benar”, ”Baik”, dan “Tertib”.Ketiga konsep itu dikaitkan dengan kesuksesan “Pembangunan” Bangsa.

Menurut Budiyono (2008) Bahasa politik, Diera electoral, yang baik perlu memenuhi 3 syarat, yakni informatif, partisipatif dan menggerakkan. Syarat pertama perlu dipenuhi supaya konstituen bias memahami pesan yang di sampaikan. Syarat yang kedua perlu dipenuhi supaya konstituen tidak ditempatkan sebagai objek, melainkan juga pelaku. Adapun syarat yang ketiga perlu dipenuhi karena politik berkaitan dengan tindakan. Bahasa politik didesain untuk mendorong dan memotivasi pendengar melakukan politik yang sesuai keinginan aktor politik.

Untuk meraih keuntungan, para industriawan tidak cukup melakukan inovasi produksi secara masal dengan ongkor yang efisien. Mereka juga harus memastikan barangnya dikenal, diminati, dan kemudian dibeli konsumen. Bahasa iklan telah berkembang demikian pesat dalam satu abat terakhir. Para prancang iklan merevolusi bahasa sehingga memiliki daya persuasi yang sangat kuat. Iklan telah menjadi objek yang sangat penting dalam dunia perdagangan, karena dirancang untuk mengubah perilaku masyarakat menjadi masyarakat konsumsi.

Penasihat pengembangan diri John Maxwell (2011) mengemukakan bahwa manusia modern menerima sekitar 35 ribu pesan setiap hari.pesan diterima sejak membuka mata hingga ia memejamkan mata kembali.kemana ia pergi, manusia akan terus menerima pesan dari lingkungan disekitarnya. Fakta ini agaknya telah disadari oleh pembuat iklan. Sehingga mereka terus berinovasi mengemas iklan menjadi menarik. Vaughn (1985) menganalisi, agar berhasil, iklan harus dapat bekerja pada empat kuadran sekaligus, yakni kuadran informative, kuatran afektif, kuadran kebiasaan, dan kuadran kepuasan.

Ketika hukum dibuat para perancangnya mengandaikan sebuah aturan yang bias membawa kebaikan bersama.hukum adalah sebuah system berfikir. Sebagai system berfikir, hukum mereka realitas yang kompleks agar disederhanakan dalam sebuah system logika. sebagai system berfikir, hukum memuat keteraturan yang menghubungkan variable satu dengan variable lain secara logis. Suteki (2012) para penegak hukum yang hanya bersandar pada teks akan selamanya menjadi tawanan UU dan akan terus terkungkung.polemik menjadi kian runcing ketika menjadi dalam proses penegakan hukum yang melibatkan subjek hukum yang kongkret.

Bagai penganutnya Agama adalah benar karena datang dari Dzat Yang Maha Benar Tuhan. Ajaran agama diturunkan kepada manusia melalui para utusan yang diyakini benar perkataanya. Lings (1991) menulis bahwa  wahyu  datang kepada Muhammad dengan dua cara, terkadang seperti bunyi bel dan terkadang malaikat menampak kandiri dalam bentuk manusia dan berbicara dengan bahasa yang dipahaminya. Mengenai bahasa kitab suci, tantangan muncul pada dua tingkat sekaligus, yakni penerjemahan dan tafsir.untuk melaksanakan pesan moral kitab suci, umat beragama harus lebih dulu menerjemahkan kitab suci dalam bahasa yang dipahami. 

Mahfutz (2010) mengungkapkan,setidaknya terdapat tiga perbedaan antara tafsir kelasik dengan tafsir modern pascah-abduh.yang pertama ,tafsir kelasik didasarkan pada riwayat dan intuisi saja,tafsir modern memanfaatkan temuan-temuan baru.kedua,tafsir kelasik terbatas pada tema-tema tertentu,pada tafsir modern sudah diwarnai dengan analisis linguistic dan filologi.ketiga,tafsir kelasik berkutat pada masalah penangkapan Al-Quran,Tetapi pada tafsir modern bersinggungan dengan sosiologis umat.

Pekerjaan jurnalis merupakan pekerjaan mengabarkan peristiwa actual tentang sesuatu yang terjadi disekitar dan penting diketahui oleh masyarakat.dalam analisis Strauss (2007) terhadap isi siaran RTLM, diketahui bahwa radio itu memang memprovoksi pendengarnya melakukan aksi kekerasan.pilihan kata yang digunakan penyiar  terdengar emosional dan dipenuhi kebencian .

Konsep Tindak Tutur Komunikasi

Resume Buku

Judul                                 : Konsep Tindak Tutur Komunikasi
Penulis                             : Wahyu Wibowo
Editor                               : Riza Dwi Aningtyas
Penerbit                           : PT Bumi Aksara
Perancang Kulit               : Diah Purnamasari
Penata Letak                   : Iman Nurul Aulia
Pencetak                          : Cahaya Prima Sentosa
ISBN                                 : 978-602-217-557-5
Tanggal Terbit                 : Agustus 2015
Jumlah Halaman             : 121 Halaman
 ...........................................................................................................
Konsep tindak tutur komunikasi terkait dengan Hakikat Bahasa. Paradigma Teoritis, dan segi-segi Prakasa memahami etos wacana kontemporer patut dipahami. Masih banyak di antara kita yang kebingungan memahami hakikat bahasa terkait dengan kemunculan pelbagai bentuk wacana komunikasi dewasa ini. Implikasinya, pengkajian wacana, misalnya, masih berputar-putar disekitar teori dan metode yang itu-itu saja. Melalui konsep tindak tutur komunikasi, yang menggaris bawahi bagaimana memahami wacana secara lebih kritis dan etis, kebingungan itu akan dijawab di dalam buku ini.

Tesis utama buku ini adalah bagaimana memahami perkembangan pelbagai bentuk wacana dewasa ini melalui sebuah konsep yang penulis namai tindak tutur komunkasi. Konsep (ide atau rancangan) tersebut, tak pelak, mesti penulis awali dengan upaya mengembalikan mengembalikan bahasa ke hakikatnya. Setelah itu baru diuraikan elemen-elemen apa yang menjadi penopang tindak tutur komunkasi. Dengan demikian, buku ini menyajikan suatu anatomi (uraian mendalam) tentang hakikat bahasa dalam kaitannya dengan suatu konsep bernama tindak tutur komunkasi. Agar konsep tersebut bisa menjadi teorema (prinsip), asasnya atau dasar pikirnya penulis berangkatkan dari aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Tujuannya, agar anatomi tentang konsep dan kemudian teorema tindak tutur komukasi secara praksis dapat didayagunakan sebagai metode analisis wacana yang lebih etis, sesuai dengan konteks perkembangan zaman.

Hakikat bahasa dari prespektif kritis aliran filsafat Bahasa biasa. Tujuannya, mengingatkan bahwa dalam berkomunikasi (apapun itu) jangan pernah abai terhadap peluang timbulnya problem etis pada hakikatnya, setiap bahasa memiliki aturan penggunaan yang berbeda-beda, yang merefleksikan suatu nilai kehidupan masyarakat penggunanya.

Dalam perspektif Filsafat Bahasa, kemunculan problem etis mengindikasikan belum banyak di antara kita yang memahami keterkaitan antara makna bahasa dan suatu nilai kehidupan yang melandasinya.Dalam pernyataan lain, menurut penulis, kemunculan problem etis kerkelindan dengan fungsi kognitif dan emotif bahasa, baik sebagai pembaharu sosial, kontrol sosial, maupun sebagai partisipasi sosial. Akibatnya terjadilah apa yang disebut keliru epistemologi alias keliru pengetahuan (Wibowo, 2009; bdk. Borgias M., 2013).

Elemen lokusi, yaitu niat etis si subjek penyaji suatu wacana ketika hendak menyampaikan makna-makna tertentu di balik wacananya, dengan tujuan agar komunikasi yang dibangunnya bersifat emansipatoristis. Elemen lokusi ditopang oleh subjektivitas, kategori dan ideologi si subjek penyaji wacana. Lokusi mengimplikasikan bahwa Bahasa di tangansi subjek penyaji wacana dapat bersifat amat lentur, terutama jika dikaitkan dengan kepentingan segmentasi pembacanya. Elemen ilokusi, yaitu tindak tutur si subjek penyaji wacana dalam menyatakan sesuatu dan sekaligus membuatnya bertindak atau berbuat sesuai dengan apa yang dituturkannya. Elemen ilokusi diakukan melalui titik fokus ilokusi (pada judul, fokus informasi, dan amanat moral) dengan melandaskan diri pada motivasi etis, sehingga terjadilah keselarasan antara kata dan perbuatan.

Kata-kata memang bebas digunakan dalam pelbagai cara, asalkan diletakkan pada konteks tata permainan bahasanya. Itu sebabnya, tidak dimungkinkan dilakukan penyeragaman suatu nilai kehidupan terhadap masyarakat yang tata permainan bahasanya berbeda-beda. Dalam kaitan dengan elemen ilokusi, oleh karena itu dibutuhkan motivasietis, alias dorongan dari diri yang berpijak pada prinsip moral, agar sajian suatu wacana mencerminkan kesetaraan antara kata dan tindakan sisubjek penyajinya terkait dengan peluang kemunculan problem etis.Elemen perlokusi, yakni respons dan efek tertentu yang muncul pada pembaca setelah membaca suatu wacana. Terkait dengan prinsip komunikasi yang emansipatoris, elemen ini dibangun dari etos kebenaran sehingga si subjek penyaji wacana tidak mengalami keliru pikir yang membawanya ke sesat pikir.

Senin, 30 Januari 2017

MENGELOLA TIM KERJA

Pada abad 21, yakni abad tim kerja dan membangun kerja tim dalam bingkai globalisasi dengan kebutuhan dan persaingan yang semakin kompleks dan cenderung menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. 

MAKA untuk dapat bertahan pada era globalisasi tersebut kita harus memiliki kekuatan yang lebih dari saat ini, dengan besarnya kebutuhan yang semakin meningkat dan ketatnya persaingan, kita tidak cukup mengandalkan kemampuan diri kita sendiri yang memiliki keterbatasan ini. Kekuatan itu antara lain adalah kerja kolektif dengan orang lain di luar diri kita dalam menjalankan suatu tugas untuk mendapatkan hasil lebih baik lagi, kerja sama itu sering di kenal dengan istilah Team work.

Team Work berasal dari bahasa asing terdiri dari dua suku kata Team dan Work. Tim adalah sekumpulan orang berakal yang terdiri atas dua, lima, hingga dua puluh orang dan memenuhi syarat terpenuhinya kesepahaman sehingga terbentuk sinergi antar berbagai aktifitas yang dilakukan anggotanya. Work(kerja) adalah kegiatan yang dijalankan oleh tiap individu yang telah terpenuhinya syarat kesepahaman di dalam tim itu sendiri..

Dalam tim co-acting, semua individu anggota tim bertindak secara independent dari yang lain. Kerja keras kolektif adalah hasil dari kerja keras individu anggotanya. Contoh dalam dunia olahraga  adalah renang, golf, dll. Adapun tim yang interacting, semua anggota tim berperan aktif dalam merealisasikan tujuan-tujuan bersama yang menjadi focus tim. Contoh dalam dunia olah raga adalah permainan sepak bola, basket, dll.

Urgensi TIM
Tim adalah media agar setiap individu dapat bekerja secara kolektif dengan penuh sinergi sebagai satu kesatuan yang senyawa. Divisi-divisi kecil merupakan pondasi bagi divisi-divisi yang lebih besar lagi. Divisi-divisi kecil dari sekelompok orang duduk bersama pada akhirnya membentuk keputusan-keputusan dalam suatu pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan dalam sebuah tim memiliki nilai lebih karena tersedilanya berbagai jalinan relasli manusia secara langsung tanpa adanya rintangan-rintangan formal antar individu yang berdampak positif , yaitu dapat memompa semangat anggota tim untuk bekerja secara produktif. Tim kerja dapat membantu menyingkirkan rintangan-rintangan antar divisi , seta dapat mengangkat semangat dan motivasi para pekerja.

Jika prinsip-prinsip di atas terpenuhi, persepsi yang ada pada individu berubah menjadi interaktif, institusional, dan organisasionalbesar sepanjang zaman yang kita lalui. Disisi lain, tim yang baik merupakan kunci masa depan, terutama dalam menghadapi persaingan global. Karena hanya dengan tim yang kokoh dan terprogram rapihlah yang memiliki peran sentral dalam meningkatkan kualitas. Disamping itu, sebuah tim dapat menentukan bentuk dan jenis aktivitas atau pekerjaan yang dapat diterima. Hal tersebut dapat berpengaruh positif pada produktivitas di dalam team work.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa tim kerja merupakan sumber penting bagi peroses pemutakhiran pengetahuan. Karena interaksi yang tidak dapat dihindari, terciptalah sifat-sifat bersama yang membentuk kepribadian setiap individu dalam tim. Agar organisasi atau suatu lembaga dapat membuktikan kemampuan pribadinya dalam pengembangan dan kreativitas, organisasi tersebut wajib menciptakan suasana kondusif yang dapat melicinkan jalan untuk maju dengan menciptakan kesempatan-kesempatan kerja kolektif dam menumbuhkembangkan semangat tim.

Dengan demikian, mencapai puncak tertinggi tidak mungkin bisa dicapai hanya karena kerja keras seseorang saja. Bagai manapun tinggi dan supernya kemampuan seorang pemimpin, tetap saja ia membutuhkan bantuan dari yang lainnya agar ia mampu mengerahkan segala potensi yang dimiliki tim semaksimal mungkin.

Jumlah Tim kerja Ideal
Sebagian pendapat menyatakan bahwa jumlah ideal bagi sebuah tim kerja terdiri atas tiga hingga sepuluh orang, bergantung pada pembentukan tim dan fungsi yang dibutuhkan. Karena tim dapat memberikan kontribusi optimal dan berkesinambungan antara anggota, ekspresi pribadi masih tetap terbuka bagi setiap anggota tim, dan dapat dengan mudah membagi tugas tanpa kehilangan visi integrative seputar pekerjaan dan tugas. Di sisi lain dapat memecahkan berbagi masalah structural internal tim.

Jika tujuan dan fungsi sangat sulit dan menuntut kemahiran yang tinggi, jumlah anggota tim ideal sebaiknya terdiri atas enam hingga dua belas orang anggota. Agar setiap anggota mendapatkan tugas atau pekerjaan yang menjadi wewenangnya. Sebaiknya, penujukan dan penugasan untuk sebagian tugas kepada divisi-divisi kecil yang merupakan penjabaran dari tim yang besar tadi.

Berdasarkan kajian di atas, terdapat beberapa masalah mengenai jumlah anggota tim, diantaranya adalah:
  1. Semakin besar jumlah anggota tim komunikasi semakin kompleks dan sulit, kondisi seperti ini membuat upaya untuk menyamakan persepsi semakin minim.
  2. Semakin besar jumlah tim, focus terhadap masalah pribadi dapat mengalahkan keutuhan agenda tim yang telah terprogram.
  3. Dalam tim yang terlalu kecil, gap akan muncul dan diskusi akan melebar dari focus utama yang dibahas dalam forum.
  4. Dalam jumlah tim yang seimbang, terjadi kesulitan mendapatkan suara mayoritas. Celah gap pun semakin terbuka lebar. Oleh karena itu, disarankan anggota tim bersifat individual.
Rangkaian di atas mencerminkan sikap yang fleksibel dalam menentukan jumlah anggota tim yang ideal dalam sebuah tugas kerja .Berikut ini beberapa prinsip yang harus diambil dan menjadi konsideran sebelum menentukan jumlah anggota tim:
  1. Karakteristik  pemimpin tim, baik dari segi psikis maupun fisik . 
  2. Karakteristik anggota tim  berdasarkan kapabilitas dan semangat  bekerja . 
  3. Sejauh mana seorang pemimpin menyediakan waktu bagi dirinya untuk melakukan tugas nonmanajerial dan manajerial.
  4. Tabiat pekerjaan yang ditinjau dari segi kompleksitas dan kesederhanaannya. 
  5. Gaya manajerial, dari segi pembagian tugas, apakah focus pada implementasi kebijakan dan anggaran untuk membuat program dari pada mementingkan kepentingan pribadi
Interaksi Antar Anggota Tim
Setiap individu team work memiliki latar belakang kemampan yang istimewa, berupa pemahaman, pengalaman, maupun prediksi tantangan yang dihadapi team work. Sinergi team work dapat dicapai ketika setiap individu tim merubah diri dari sifatnya yang individualis kedalam sebuah tim yang sifatnya kolektif. Kesuksesan perpindahan tersebut bergantung pada kemampuan anggota tim dalam interaksi positif dan dalam kerjasama konstruktif dalam setiap aktivitas tim.

Jadi, membuka diri dan mau menerima peran serta orang lain merupakan permulaan  dan membuka jalan bagi kita untuk mempercepat perpindahan menuju satu tim. Lebih dari itu, membuat orang lain lebih terbuka dan lapang dada untuk menerima kita, dengan sendiriya telah menghilangkan area tak bertuan yagn kita sendiri tidak mengetahuinya jika hanya bersandar pada reaksi orang lain terhadap diri kita.

Mengelola tim
Untuk dapat mengelola tim dengan baik, langkah pertama yang perlu diambil ialah menentukan target dan tujuan team work, spesifikasi tugas kepada setiap individu tim. Divisi-divisi besar meringkas tugas kepada divisi-divisi yang lebih kecil agar setiap anggota ikut andil dan merasa bagian dari tim, agar dalam pelaksanaannya dapat dikontrol dengan mudah. Pembagian tugas dan wewenang terhadap tiap divisi telah mencapai kesepakatan dari awal pembbentukan team work.

Apabila terjadi perubahan rencana dan target tim, dipelajari terlebih dahulu. Setelah tercapai kesepakatan terhadap perubahan target dan rencana tim, salah seorang dari anggota tim yang melakukan perubahan tersebut memberikan instruksi kepada setiap divisi dan membantunya saat dibutuhkan. Pada saat kegiatan tersebut dijalan, tim beserta anggota melakukan evaluasi dari awal pelaksanaan hingga puncak acara selesai dilaksanakan senantiasa untuk memastikan (mengawasi) secara rutin dan disiplin tentang peran setiap anggota tim dalam menyukseskan kerja tim.

Studi Komparatif

1. Pengalaman Jepang
Manajemen dalam pandangan bangsa Jepang adalah komitmen kolektif yang lahir dari kesadaran diri dan rasionalitas untuk mengabdi pada institusi (perusahaan) tempat kami bekerja, baik secara fisik maupun nalar. Manajemen kolektif atau manajemen konsesus yang terdapat dalam perusahaan Jepang ialah kolektivitas dengan makna bahwa kerjasama, sinergi, dan berkarya bukan hanya saling mendorong satu sama lain, namun lebih dari itu dilakukan secara hand in hand, aktif dalam mengambil keputusan, menentukan tujuan dari team work. Filosofi manajemen kolektif ini ternyata tidak hanya berlaku dan diterapkan di dalam perusahaan saja, namun berlaku diseluruh sendi kehidupan bangsa Jepang.

Keunggulan manajemen bangsa Jepang lainnya ialah bahan mereka sangat mengandalkan kualitas atau nilai kerja tim dan budaya yang menjadi spirit dan budaya setiap orang. Disitu setiap orang merasa bahwa dirinya adalah bagian dari anggota tim (perusahaan/institusi) dan ia sangat terkait erat dengan teman-temannya atau para karyawan yang bekerja dengannya. Maka, tidak diragukan lagi, kelangsungan, ketahanan, dan pertumbuhan merupakan target strategis bagi setiap perusahaan yang bersifat profit center. Selain itu, bangsa Jepang benar-benar mefokuskan pada kemahiran dan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

2. Pengalaman Amerika
Perbedaan terpenting antara Jepang dengan Amerika adalah kecenderunga dan focus mereka terhadap kolektivitas dan individualitas. Bangsa Jepang lebih cenderung bersifat kolektivitas dari pada individualitas, demikian sebaliknya dengan bangsa Amerika yang lebih mengedepankan pekerjaan secara independent dan individualitas.

Dari perbedaan itu menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
  • Tatanan keluarga Jepang relative lebih kuat.
  • Usah orang Amerika ialah merealisasikan independensi dan ambisi individualitasnya.
  • Individu Amerika cederung lebih tahan banting.
  • Tidak ada kepemimpinan , kultus atau charisma individu untuk bangsa Jepang.
  • Bangsa Amerika sangat menikmati terhadap skill dan kemampuan individu yang secara khusus dimilikinya.  
Dari dua model system manajemen yang diterapkan oleh Jepang dan Amerika dapat disatukan dalam satu titik temu yang dapat saling memperkuat, melengkapi, dan berkesinambungan seperti halnya system yang diterapkan dalam dunia islam, yaitu dengan menyeimbangkan antara kemempuan individu kedalam kerja kolektif dalam mencapai tujuan bersama..

Spirit Jiwa dan Pendidikan untuk Berinteraksi dengan Pihak Lain dalam Bingkai  Team Work
Poin-poin beikut merupakan panduan yang diharapkan menjadi pembuka jalan bagi terciptanya harmonisasi potensi yang dimiliki demi tercapainya kepentingan anggota secara luas dan penataan agenda bersama. Bekerja sama dalam hal yang disepakati dan saling toleran terhadap hal yang belum disepakati, merengkuh manfaat dari kebersamaan yang melahirkan gagasan utuh yang saling melengkapi. Atas dasar itulah kerja tim merupakan hal terpenting dalam menghadapi era globalisasi.

Jika kerja keras dan upaya kita dapat bersinergi serta saling membangun fondamen jiwa dan pendidikan , juga meresponsif terhadap nilai-nilai, norma-norma, dan visi misi kita hingga terciptanya rancangan aksi strategis di kemudian hari. Itulah spirit yang menjadi energi bagi setiap pergerakan dan aksi.

Sumber : Ahmad Abdul Jawwad,  Manajemen Team work, PT. Syaamil Cipta Media, Jakarta, 2006.

Rabu, 25 Januari 2017

Rahasia Manajemen Tim Yang Sukses

                                                               RESENSI BUKU

  • Judul Buku: The Secrets of Successful Team Management - How to lead a team to innovation, creativity and success
  • Pengarang: Prof. Michael West
  • Penerbit: Duncan Baird Publishers
  • Jumlah halaman: 160 halaman, termasuk index
  • Penulis Resensi: Majalah HC
Sejarah kerjasama tim dalam kehidupan manusia hampir setua umur manusia itu sendiri. Kerjasama tim menjadi vital ketika dunia kemiliteran dan bisnis berkembang dengan cepat. Sejalan dengan perkembangan pasar dan teknologi, industri tidak lagi bisa berjalan secara mekanistis. Ia harus bisa bertindak secara fleksibel, dan kebutuhan terhadap kelompok kerja makin terasa. Para peneliti menemukan bahwa pengaruh kelompok kerja terhadap produktifitas sama besarnya dengan pengaruh seorang manajer. Hanya saja, saat organisasi menjadi semakin besar, para pekerja kesulitan untuk saling berbagi pengetahuan tentang material, proses, dan metode kerja untuk meningkatkan daya saing organisasi. Ini terjadi karena saluran pertukaran ide dan keahlian di antara karyawan mampet.

Inovasi model bisnis berkembang selama masarekonstruksi pasca Perang Dunia II. Jepang memimpin dengan menerapkan etika tim sebagai prinsip-prinsip produksi massal. Karyawan mereka sangat termotivasi, komit terhadap teknologi, dan sangat produktif. Kemudian, perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa mengkopi cara Jepang mengelola pekerjaan itu, sembari menghapus hambatan birokrasi yang sering menghambat inovasi dalam kultur orang-orang Jepang. Upaya mencontoh itu ternyata bukanlah resep yang mudah. Hingga saat ini pun upaya mengadopsi pendekatan tim itu masih menjadi tantangan terbesar pada banyak perusahaan. Direktur HR dari 100 perusahaan paling top di Amerika (Fortune 100) melaporkan bahwa perhatian utamanya tertuju pada upaya membangun struktur berbasis tim agar perusahaan mereka bisa bergerak fleksibel, produktif, tangguh, dan efektif.

Menurut Profesor Michael West, pengarang buku The Secrets of Successful Team Management, upaya membangun tim bukan hanya soal laba dan inovasi, tetapi ia juga penting bagi kesehatan kita. Saat bekerja dalam sebuah tim, kita memiliki hubungan pertemanan yang bagus, dan kita merasa dimengerti dan dihargai. "Kita mempunyai rasa memiliki yang kini semakin hilang di perusahaanperusahaan besar," ujar professor psikologi organisasi itu. Karyawan melihat adanya gap yang lebar antara retorika sang CEO (yang selalu mengatakan, "...SDM adalah asset utama terpenting") dengan kenyataan yang dihadapi sebagai karyawan. Sebagai akibatnya, karyawan sering merasa tidak dihargai oleh perusahaan dan merasakan minimnya kontrol terhadap kerjanya.

Alienasi semacam itu tercampur saat perusahaan harus merampingkan diri untuk merespons tekanan ekonomi, karena adanya beban pekerjaan berlebihan dan seringnya terjadi pengulangan pekerjaan yang dirasakan karyawan.

Manfaat dari kerjasama tim, menurut penulis, sangat banyak. Biasanya organisasi berbasis tim memiliki struktur yang ramping. Berkerjasama dalam sebuah tim berarti memberi tanggung jawab dan otoritas kepada tim untuk membuat keputusan tentang bagaimana bekerja paling efisien, dan ini menyebabkan jumlah manajer dan level manajer lebih sedikit. Oleh sebab itu, organisasi akan bisa merespons dengan cepat dan efektif lingkungan yang cepat berubah.

Tim bisa melakukan pengembangan dan peluncuran produk dengan cepat. Tim memungkinkan organisasi untuk terus belajar (dan mengambil manfaat dari proses itu) secara lebih efektif. Tim yang melibatkan banyak fungsi akan membantu meningkatkan manajemen mutu. Ia juga mendorong berkembangnya kreatifitas dan inovasi. Kerjasama tim juga menghasilkan manfaat finansial, termasuk karena kenaikan produktifitas. Begitu pula, perubahan dalam sebuah organisasi lebih efektif bila melibatkan kerjasama tim. Masih banyak manfaat lain dari kerjasama tim.

Selain memberikan analisis teoritis dan praktis tentang manajemen tim, yang menarik dalam buku ini, penulis memberikan kiat atau tips yang amat berguna untuk menghasilkan kerjasama tim terbaik. Penulis menyebut kiat atau tips itu dengan istilah Work Solution, yang berjumlah 23 buah. Penerapan Work Solution ini secara baik diyakini akan melahirkan kerjasama tim yang kuat di perusahaan Anda. 

Work Solution 1 mengulas kenapa Anda harus membentuk kerjasama tim, karena tidak semua hal mengharuskan Anda melakukannya. Work Solution 2 berisi cara untuk menelaah kompetensi dari tim. Work Solution 3 menyarankan pembuatan jurnal manajemen waktu. Work Solution 4 mengupas tema "...meditasi pikiran" untuk meresapi tugas tim.Work Solution 5 berisi cara merespons umpan balik formal. Work Solution 6 tentang cara mengatasi anggota tim yang sulit. Work Solution 7, jurus mempersiapkan presentasi dari seorang juru bicara bagi tim. Work Solution 8, tentang seni dari persuasi. Work Solution 9 berbicara tentang penyusunan aturan main. Work Solution 10 berisi klarifikasi peran. Work Solution 11 tentang bagaimana memproses informasi yang berguna. Work Solution 12 mengupas kiat membangun hubungan dua arah. Work Solution 13 tentang cara menyusun objektif. Work Solution 14 tentang penyusunan agenda. Work Solution 15, bagaimana melakukan debat yang positif. Work Solution 16, analisis tentang stakeholder. Work Solution 17 mengupas cara bertukar pikiran dua tahap. Work Solution 18, mengelola risiko. Work Solution 19 tentang memaksimalkan upaya. Work Solution 20 tentang cara menghadapi hal-hal rutin. Work Solution 21 mengupas tema bagaimana mengevaluasi kerjasama tim. Work Solution 22 tentang pembentukan sebuah tim perubahan. Terakhir Work Solution 24 mengupas hal menghilangkan hambatan keterbukaan.

Sebuah buku yang menarik dan bermanfaat bagi siapa saja pelaku organisasi: eksekutif, manajer, karyawan, dan siapa saja yang mengandalkan kerjasama tim dalam pencapaian hasil.


POS TERKINI

Politik Bahasa Penguasa

Penulis            : Fathur Rokhman, Suratman Penerbit         : Kompas Tebal Buku     : 298 Halaman Isbn                  : 978-60...

ARTIKEL POPULER