Tampilkan postingan dengan label Teknik photografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik photografi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2011

MIKROFILM DAN MIKROFICE*


MIKROFILM

Mikrofilm adalah hasil reproduksi dalam bentuk gulungan film yang kecil dengan ukuran lembaran film 16 mm dan panjang 100 feets. Untuk film yang berukuran 35 mm dan panjang 200 feets, digulung dalam sel plastik.

Mikrofilm merupakan kopi dari halaman-halaman buku, manuskrip dan sebagainya yang melalui proses fotografi dimana bayangan kecil yang ada pada frame tersebut merupakan duplikat dari bagian aslinya. Mikrofilm masih merupakan pilihan yang populer karena bisa menampung sejumlah besar informasi yang dapat disimpan dalam ruang yang sangat kecil, dan membutuhkan biaya yang rendah.

Bentuk-bentuk mikrofilm:

1. Gulungan, yaitu hasil rekaman dengan kamera yang telah diproses untuk suatu benda. Film tersebut memuat bahan-bahan informasi yang terbentuk secara ringkas dimana informasi diletakkan secara berderet dan mempunyai jaraj tertentu.

2. Lembaran, yaitu hasil reproduksi dari salah satu bagian gulungan yang diberi bingkai dan sampul yang terbuat dari polyester plastik.

Keberadaan mikrofilm di perpustakaan:

a. Mikrofilm sebagai suplemen, dimana pengguna mencari bahan atau dokumen yang mereka perlukan melalui mikrofilm namun di perpustakaan tersebut juga terdapat bahan aslinya.

b. Mikrofilm sebagai komplemen, apabila di perpustakaan itu tidak ada bahan aslinya, jadi informasi tersebut hanya ada di mikrofilm saja.

Alasan penggunaan mikrofilm di perpustakaan:
  1. Melestarikan koleksi yang mempunyai nilai sejarah.
  2. Menyelamatkan koleksi yang sudah aus.
  3. Melengkapi koleksi yang tidak tersedia dalam bentuk cetak dan koleksi yang langka.
  4. Mempermudah dalam menggunakan bahan-bahan yang asalnya bertumpuk.
  5. Menghemat uang dalam pengiriman.
  6. Mengurangi kerusakan.
  7. Menggantikan interlibrary loan.
Keuntungan penggunaan mikrofilm:
  1. Menghemat penyimpanan.
  2. Memperlancar penyebarluasan dokumen.
  3. Melestarikan bahan informasi dalam bentuk stensil.
  4. Untuk memperkecil penjilidan.
  5. Memungkinkan penyimpanan semua dokumen yang terdaftar dalam file komputer.
  6. Untuk mengurangi ongkos pengiriman dokumen.
Kekurangan penggunaan mikrofilm:
  1. Sulit untuk diperbaharui atau menyisipkan revisi dokumen.
  2. Tidak ekonomis untuk mendistribusikan dokumen sendiri.
  3. Diperlukan wadah khusus untuk penyimpanan.
  4. Menimbulkan masalah dalam interfiling dokumen yang berkaitan dengan filming yang bermutu.
  5. Penggunaan informasi oleh pengguna akan mengakibatkan ketegangan mata dan kelelahan fisik.
  6. Mikrofilm memerlukan perawatan khusus dan tenaga ahli dalam proses pembuatannya.
Memproduksi mikrofilm

Terdapat 4 (empat) faktor yang terlibat dalam memproduksi mikrofilm (memproduksi rol mikrofilm/membuat gulungan film berukuran kecil), yakni:
  1. Harus ada sumber informasi baik yang tercetak maupun yang berupa tape magnetis/suara tape.
  2. Perubahan dari informasi kepada bayangan laten pada film. Dalam hal ini, pengubahan/konversi informasi menjadi dokumen film yang tersembunyi dilakukan dengan cara mengekpos/menyingkap film itu dengan menggunakan kamera atau sebuah COM (Computer Output Microfilmer).
  3. Langkah pemrosesan dimana “latent image” dibangun dan diterapkan. Dalam tahap processing/pengolahan ini, dimana dokumen film yang tersembunyi itu dikembangkan dan diperbaiki.
  4. Muatan, dimana film yang telah diproses diperanginkan diatas gulungan dan disisipkan di dalam kaset. (pemuatan film yang telah diproses/diolah dengan digulungkan/dililitkan pada gulungan dan dimasukkan kedalam slongsong atau kaset)
Pemasukan Informasi

1. Dokumen dipersiapkan secara manual.
  • Dokumen dipersiapkan terlebih dahulu untuk pengiriman (dokumen) pada kamera.
  • Dokumen-dokumen tersebut dipersiapkan untuk “filming”.
  • Berdasarkan keperluan pengguna, dokumen tersebut untuk filming : arsip-arsip (files) dicek/diteliti untuk menata urutan/rangkaiannya, halaman-halaman yang sobek diperbaiki, duplikat yang kosong dibuang, begitu juga klip/jepitan dan atom hekter.
2. Informasi dipersiapkan dengan komputer. Prosesnya:
  • Proses dimulai dengan pengenalan data dan pemasukan program kedalam komputer.
  • Setelah pemrosesan data, komputer menaruh kode data baru pada pita suara tape (komputer menempatkan data encode yang baru pada magnetic tape)
  • Termasuk tape, diberi kode data yang berhubungan susunan informasi terakhir yang akan disingkap dalam mikrofilm.
Organisasi Microfilm

3. Kamera-kamera mikrofilm. Dokumen diubah dengan menggunakan salah satu dari tiga tipe/jenis kamera microfilm seperti dibawah ini:
  • Rotory Camera. Rotory atau Flow Microfilm Cameras bisa dimasuki satu dokumen dalam sesaat oleh seorang operator atau menerima dokumen-dokumen secara berlanjut dari alat pemasok data otomatis. Keduanya berupa dokumen dan film yang bergerak pada basis yang sinkron.
  • Planetary Camera. Dokumen yang difoto dan film tetap tidak berubah selama pencahayaan pada planetary camera. Kamera ini memungkinkan untuk pemfileman dokumen-dokumen besar atau buku berjilid keras. Pengurangan-pengurangan atau pemotongan bisa bervariasi untuk mengurangi subjek-subjek yang berukuran berbeda hingga ukurannya sama pada film itu.
  • Step & Repeat Camera. Step and Repeat Camera menciptakan syal yang berbentuk segitiga (MICROFICHE) dengan mengekspos sebuah seri dokumen yang terpisah pada sebuah area film yang formatnya telah ditentukan sebelumnya atau kisi-kisi/jaringan tertentu.
  • Computer Output Microfilm (COM). COM Recorder mengubah data yang tersimpan pada pita magnet komputer secara langsung menjadi microfilm, mengeliminasi kertas cetak. Ada beberapa proses COM. Pada umumnya pita dibaca dan dokumen ditampilkan pada tabung sinar katoda. Ini difoto oleh sebuah kamera yang merupakan bagian dari COM Recorder.
  • Pengolahan seperti halnya pada film apapun, mikrofilm harus diolah untuk membuat dokumen yang tersembunyi menjadi tampak kelihatan. Unit-unit pengolahan khusus baik di rumah atau di laboratorium pengolahan yang besar dan canggih digunakan untuk meyakinkan hasil dengan kualitas tertinggi.
  • Loading Processed atau proses (pengolahan) pemuatan film dililitkan atau dikumparkan pada gulungan-gulungan, slongsong atau kaset.
Cara Penyimpanan Microfilm
Mikrofilm memiliki daya tahan cukup lama yakni sampai dengan 100 tahun apabila disimpan dalam suatu ruangan dengan suhu yang baik. Waktu menyimpan sebaiknya dijaga agar supaya tidak terkena sinar matahari secara langsung, tidak terlalu lembab, serta temperatur yang cocok yakni antara 60-70° F dengan kelembaban 40-50 %.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan NBM:
  • Jenis kategori film: Jauhkan dari cahaya secara langsung karena dapat merubah warna; hindarkan dari kelembaban yang berlebihan; gunakan film yang bermutu baik; serta hindarkan dari goresan dan lemak yang diakibatkan dari tangan yang kotor.
  • Bahan film mengandung elektronistatis yang membuatnya mudah menarik debu. Sedangkan bahan poliester dalam merawatnya menggunakan kain pembersih antistatik yang bebas dari sulfur sehingga tidak merusak lapisan.
  • Jenis Magnetic tape: Pita harus tergulung datar, tidak terlipat dan tidak bengkok; semua jenis magnetic tape harus dioperasikan secara periodik untuk menghindari lengketnya pita tape itu satu sama lain; hindarkan dari debu dan jauhkan dari medan magnet.
  • Jenis Magnetic disk: Usahan supaya tidak terlipat; jauhkan dari sinar matahari; jauhkan dari debu, lemak serta dari medan magnet.
  • Jenis Tercetak Kertas: Supaya tidak mudah rusak maka simpan di tempat terlindung dari sinar matahari karena kertas sangat peka terhadap sinar matahari; untuk menghindari rusaknya kertas dari sentuhan maka digunakan ANIMASI (cara pemberat); kertas sebaiknya tidak digulung tapi digantung; untuk kertas kotor sebaiknya dibersihkan dengan menggunakan kertas fotografi lapis emulsi.

Rabu, 23 Juni 2010

Tips Kamera Digital : Mencegah Under Exposure Pada Kamera Saku

Pengguna kamera saku umumnya mengeluh karena foto-foto indoor yang mereka dapatkan cenderung kurang terang (under exposure). Hal ini sering terjadi pada kamera-kamera yang hanya mengandalkan built-in flash dengan jangkauan (coverage) area yang terbatas ditambah kebiasaan memotret pada jarak maksimum jangkauan flash.

Yang sering terjadi adalah:

  1. Pada wide angle lens (zoom out max), hanya daerah tengah saja yg cukup cerah, sementara pada bagian tepi/pojok, cenderung lebih gelap, hal ini terjadi akibat keterbatasan jangkauan area flash.
  2. Pada lensa tele (zoom in max), keseluruhan foto cenderung kurang cerah (under) karena cahaya flash kurang kuat. Hal ini disebabkan berkurangnya jangkauan flash akibat bukaan aperture yang mengecil saat zoom in dilakukan.


Untuk menghindari masalah ini, kita perlu mengetahui kemampuan built-in flash pada kamera tersebut. Pada kamera saku, umumnya cuma diberikan data jangkauan maksimum dari built-in flashnya, misalnya: pada ISO 100 dengan kondisi wide angle jangkauan built-inflash adalah 3m sedangkan pada kondisi tele jarak berkurang menjadi 2m. Jarak ini berubah, bertambah atau berkurang sebanding dengan ISO yang digunakan. Misalnya, pada peningkatan 1 stop / double (ISO 200), jarak tersebut meningkat ¼ kalinya. Pada 2 stop / quadruple (ISO 400), jarak meningkat 2 kalinya. Sebaliknya, jika diturunkan menjadi ISO 50, jarak menurun 0,7 kalinya.

Untuk mencegah under exposure, usahakan memotret dalam jarak sebelum/dibawah jangkauan max flash.
Ada beberapa hal yg harus diperhatikan agar foto yang dihasilkan tidak under exposure, yaitu:

  • Gunakan ISO tertinggi pada kamera untuk memotret pada kondisi kurang cahaya (low light) dan atau untuk obyek yang bergerak cepat (foto sport/action). Namun, penggunaan ISO tinggi pada kamera poket yang umumnya bersensor kecil akan menimbulkan noise (dalam kamera analog atau kamera yang menggunakan film disebut grainy) akibat peningkatan sensitifitas sensor kamera tersebut terhadap cahaya. Tetapi, tingkat noise ini masih layak cetak utk ukuran kecil (3-4R), jika anda "alergi" dengan noise, hindari ISO 400, gunakan ISO 200 sebagai ISO tertinggi.
  • Gunakan flash dengan speed rendah (slow synch flash) agar obyek dan background cukup tercahayai dengan baik. Penggunaan flash dengan speed rendah ini terutama sangat berguna untuk pengambilan foto di malam hari (night shoot/scene). Namun perlu diingat, karena menggunakan speed rendah, kamera dan obyek foto harus diam tidak bergerak dan disarankan untuk menggunakan tripod untuk mencegah hasil foto goyang akibat getaran tangan. Semakin rendah speednya, semakin lebih natural warna cahaya asli yang terekam (misalnya warna lampu pijar yang lebih warm). Gunakan nilai (+) EV (Exposure Value) untuk "mencerahkan" hasil foto yang diambil. Keuntungan dengan menggunakan (+) EV adalah peningkatan kecerahan yang tidak dibarengi dengan peningkatan noise karena cara kerjanya adalah dengan menurunkan speed sampai batas "aman" (batas speed yang cukup tinggi untuk handheld). Bila ini masih dirasa belum cukup, maka tindakan berikutnya adalah memperbesar aperture. Terkait dengan cara kerjanya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan/diperhitungkan pada saat pemotretan dilakukan yaitu:

    1. Semakin besar nilai (+) EV, maka semakin rendah speed-nya. Ini tidak cocok untuk pengambilan obyek bergerak (tidak bisa untuk "membekukan" obyek), tetapi lebih cocok untuk still foto. Bila sampai aperture-nya diperbesar, maka DoF-nya akan memendek. Tetapi hal ini jarang, apalagi mengingat kamera saku digital memiliki DoF yang "sangat" panjang, kecuali untuk foto makro."Karena kecerahan ini sengaja kita "tambahkan", maka hindari penggunaan untuk pengambilan jarak dekat (close up) yaitu pengambilan dengahn jarak 1m atau kurang. Agar tidak over exposure (foto terlalu terang akibat cahaya yang berlebihan) lebih baik obyek berada mendekati jangkauan maksimum flash-nya.
    2. Seberapa besar nilai (+) EV-nya? tergantung berapa cerah foto yg kita inginkan, kondisi penerangan di lokasi pemotretan, dan jangan lupa sesuaikan dgn ISO setting yg kita gunakan. Ada baiknya untuk melakukan percobaan terlebih dahulu dalam menentukan nilainya.


    Umumnya nilai +2/3 - 1 (+0,7 - 1,0) pada ISO 100-200 sudah cukup. Pada kondisi tertentu yang membutuhkan tingkat kecerahan tinggi, mungkin baru cukup pada ISO 400 (misalnya: foto group yg terpaksa dilakukan pada jangkauan max flash).

    Bagaimana dengan ISO auto ? perhatikan range ISO-nya, umumnya antara 100-200, 100-400, 50-150, tergantung merk / type kameranya (walau kamera umumnya cenderung memilih ISO terendahnya).

Beberapa Teknik dalam Fotografi

Teknis Fotografi & Fungsinya

Fotografi bukan segalanya tentang kamera. Dikatakan bahwa fotografi adalah seni bermain dengan cahaya. Tanpa adanya cahaya, maka mustahil fotografi itu ada. Menghasilkan sebuah gambar yang bagus, harus memiliki visi yang kuat dalam hal ‘melihat’. Memperhatikan cahaya, komposisi dan momen adalah hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam membuat foto yang dapat dikategorikan ‘bagus’.

Namun, sepertinya mustahil dapat menghasilkan foto seperti itu jika tidak mengenal dan memahami dari masing-masing teknis fotografi dasar. Fotografi memang bukan segalanya tentang kamera, namun kamera adalah alat untuk menyalurkan visi kita itu. Maka, sekiranya perlu mengenal dan memahami bagaimana kamera bekerja.

Tugas utama dari kamera adalah mengatur intensitas cahaya yang masuk dan pada akhirnya mengenai film/sensor (selanjutnya saya sebut medium). Apabila, kamera mengizinkan terlalu banyak cahaya yang masuk maka medium akan terbakar (overexposed). Dan sebaliknya. Bagaimana agar cahaya yang masuk itu tidak berlebih dan tidak kurang, atau dengan kata lain ‘pas’. Berikut saya jabarkan satu-satu.


Aperture

Atau yang sering juga disebut dengan difragma atau bukaan lensa adalah berfungsi untuk mengatur seberapa besar lensa akan terbuka. Fungsi ini lebih tepatnya terletak pada lensa. Logikanya, semakin besar bukaannya, maka akan semakin banyak cahaya yang akan masuk. Seperti sebuah kran air. Semakin besar kita buka keran tersebut maka akan semakin banyak air yang akan keluar.

Penulisan Aperture yang benar adalah f/x. Sehingga apabila dikatakan nilai Aperture-nya adalah 5.6, maka penulisan yang benar adalah f/5.6. Jadi jangan bingung apabila ada yang bilang bahwa bukaan lensa 2.8 lebih besar dari bukaan lensa 5.6. Karena kalau secara penulisan matematisnya memang benar khan? (f/2.8>f/5.6) Tapi kebanyakan kita malas untuk bilang f/2.8 atau f/5.6, karena kita orangnya simpel sih… Very Happy


Efek Samping dari Aperture

Seperti obat batuk yang memiliki efek samping, begitu juga dengan aperture. Efek sampingnya adalah semakin besar bukaan lensa, maka akan semakin kecil daerah fokusnya. Dan sebaliknya. Daerah fokus inilah yang biasa dikenal dengan DOF (Depth of Field). Untuk lebih jelasnya, lihat foto berikut ini:





foto Efek Samping dari Aperture f/3.5, 1/125 detik @ 50mm ISO 100
f/3.5, 1/125 detik @ 50mm ISO 100




Seperti contoh gambar diatas, terlihat bahwa daerah focus hanya pada putik bunganya saja. Sedangkan bagian mahkotanya sudah out of focus (blur). Tapi, coba lihat pengambilan dengan bukaan kecil ini.





foto Efek Samping dari Aperture f/11, 1/200 detik @ 17mm ISO 200
f/11, 1/200 detik @ 17mm ISO 200




Pada contoh diatas hampir keseluruhan gambar terlihat tajam (kecuali objek yang memang jauh).


Shutter Speed

Atau yang biasa disebut juga dengan speed atau kecepatan rana bertugas untuk mengatur berapa lama mirror terbuka lalu menutup kembali untuk membatasi berapa banyak cahaya yang akan masuk. Seperti teori keran, apabila kita membuka keran terlalu lama, maka wadah penampung air tadi akan kelebihan sehingga akan meleber keluar. Kalau dalam kasus fotografi, medium akan terbakar.

Penulisan shutter speed yang benar adalah 1/x. Sehingga apabila dikatakan bahwa sebuah foto menggunkanan speed 60, maka penulisannya yang benar adalah 1/60 detik. Jadi jangan bingung kalau dikatakan bahwa speed 60 lebih cepat dibandingkan 30. karena secara penulisan matematis memang begitu khan?


Efek Samping dari Shutter Speed

Seperti berpacaran yang memiliki efek samping, seperti sulit melirik wanita/pria lain, begitu juga dengan shutter speed. Semakin cepat shutter speed, maka akan gambar akan semakin terlihat diam (freeze). Dan sebaliknya, apabila speed terlalu lamban gambar akan terlihat blur dikarenakan gerakan yang terlalu cepat, sehingga objek terlihat bergerak sangat cepat. Lebih jelasnya, silahkan lihat foto berikut sebagai ilustrasi:




foto Efek Samping dari Aperture <br />

1/320 detik, f/5.6 @ 17mm ISO 100
1/320 detik, f/5.6 @ 17mm ISO 100




Kuda sedang berlari (gak mungkin sedang nari khan?) terlihat diam dengan menggunakan shutter speed yang cepat.





foto Efek Samping dari Aperture <br />

1/15 detik, f/11 @ 17mm ISO 400
1/15 detik, f/11 @ 17mm ISO 400




orang yang sedang duduk terlihat tajam, sedangkan kendaraan dibelakangnya yang bergerak terlihat blur.


ISO atau ASA

Adalah tingkat sensitifitas medium dalam menerima cahaya. Semakin tinggi nilainya, maka akan semakin tingkat sensitifitasnya. Artinya, apabila kita merubah nilai ISO atau ASA ini menjadi lebih tinggi, sedangkan aperture dan speednya tidak diubah, maka medium akan menerima cahaya lebih banyak. Dan sebaliknya.


Efek Samping ISO atau ASA

ISO adalah tingkat sensitifitas sensor (medium), sedangkan ASA adalah tingkat sensitifitas film (medium), jadi perbedaannya hanya dimediumnya saja. Tapi logikanya sama. Kecuali efek sampingnya. Dimana apabila menggunakan film ASA tinggi, maka gambar akan terlihat grainy (berbentuk titik kecil namun banyak). Sedangkan penggunaan ISO tinggi akan menghasilkan noise (seperti bentuk cacing namun banyak). Sedikit aja udah geli apalagi banyak =)

Yang penting adalah kita mengenal kamera serta fungsi-fungsinya sebagai alat yang menyalurkan visi kita dalam menghasilkan sebuah gambar. Jadi, semua fungsi memiliki efek samping, tapi bukan berarti ini jelek. Namun, kita harus bisa menggunakannya dengan bijak. Pertanyaannya adalah, efek apa yang ingin dihasilkan supaya memperkuat pesan yang ingin disampaikan?

Sumber : http://www.geocities.com/tugastik/artikel3.html