Tampilkan postingan dengan label Public Relations. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Public Relations. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Agustus 2019

PENGENALAN ETIKA PROFESI KEHUMASAN



Para professional dalam melaksanakan peran dan kegiatan utamanya sesuai dengan profesi, pemgetahuan atau keahlian yang disandangnya tersebut tidak terlepas dari etika profesi yang berkaitan dengan kode etik perilaku dank ode etik profesi sebagai standar moral.

1.    Pengertian Profesi dan Profesional
Perkembangan istilah profesi menjadi keterampilan atau keahlian khusus seseorang sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama yang diperolehnya dari jalur pendidikan atau pengalaman, dan dilaksanakan terus- menerus, serius yang merupaka sumber utama bagi nafkah hidupnya.

Dilapangan praktik dikenal dua jenis bidang profesi sebagai berikut:
a.    Profesi Khusus
     Para professional yang melaksanakan profesi secara khusus untuk mendapatkan nafkah atau penghasilan sebagai tujuan pokoknya.
b.    Profesi Luhur
     Para professional yang melaksanakan profesinya, tidak lagi untuk mendapatkan nafkah sebagai tujuan utamanya, tetapi sudah merupakan dedikasi atatu jiwa pengabdiannya semata- mata.

2.    Ciri- ciri Profesi
 Khususnya professional Humas (PR Profesional), secara umum memiliki ciri- ciri sebagai berikut:
1.   Memiliki skill atau kemampuan, pengetahuan yang tinggi yang tidak dimiliki oleh orang umum lainnya.
2.   Memiliki kode etik yang merupakan standar moral bagi setiap profesi yang dituangkan secara formal, tertulis dan normatif.
3.   Memiliki tanggung jawab profesi (responsibility) dan integritas pribadi (integrity) yang tinggi.
4.   Memiliki jiwa pengabdian kepada publik atau masyarakat dengan penuh dedikasi profesi luhur yang disandangnya.
5.   Otonomisasi organisasi professional, yaitu kemampuan untuk mengelola (managemen) organisasi humas yang mempunyai kemampuan dalam perencanaan program kerja jelas, strategis, mandiri, dan tidak tergantung pihak lain.
6.   Menjadi anggota salah satu organisasi profesi sebagai wadah untuk menjaga eksistensinya, kehormatan, dan menertibkan perilaku standar profesi sebagai tolak ukur agar tidak dilanggar.

Prinsip- Prinsip Etika Profesi
Seorang profesional, termasuk bidang profesi kehumasan (Public Relationt Profesional), secara umum memiliki tiga prinsip Etika Profesi (Keraf,1993:49-50) sebagai berikut:
1.   Tanggung jawab
     Setiap penyandang profesi tertentu harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap profesi.
2.   Kebebasan
     Para profesional memiliki kebiasaan dalam menjalankan profesinya tanpa merasa takut atau ragu- ragu, tetapi tetap memiliki komitmen dan tanggung jawab.
3.   Kejujuran
     Jujur dan setia serta meras terhormat pada profesi yang disandangnya, mengakui kelemahannya dan tidak menyombongkan diri.
4.   Keadilan
     Dalam menjalankan profesinya, setiap profesional memiliki kewajiban dan tidk dibenarkan melakukan pelanggaran terhadap hak atau mengganggumilik orang lain.
5.   Otonomi
     Setiap profesional memiliki kebebasan secara otonom dalam menjalankan profesinya sesuai dengan keahlian, pengetahuan, dan kemampuannya.

Pernyataan Humas (Pr Statement) Bersifat Konotatif
Sesuai dengan acuan Kode Etik Profesional Humas secara praktik dalam mengeluarkan statement press atau peryataan pers untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada publiknya, humas mengacu pernyataan-pernyataan yang bernada positif, yaitu melalui “Avoid negative news, and withdrawal publication”. Artinya, yang bersangkutan tidak akan menyebarluaskan publikasi yang tidak menguntungkan, dan tidak menghindari peryataan Humas (PR Statement) yang menimbulkan salah pengertian (misunderstanding), konotatif, kontroversial, dan polemik berkepanjangna dengan berbagai pihak lainnya.

Pengembangan Profesionalisme
Profesional adalah memiiki kemampuan teknis dan operasional yang diterapkan secara optomim dalam batas- batas etika profesi. Seorang profesional adalah A person who does something with great skill. Syarat- syarat yang harus dipenuhi dalam pengembangan profesionalisme adalah sebagai berikut:

1.     Pengakuan.
Perlunya memperoleh pengakuan terhadap kemampuan dan keberadaan (eksistensi) seseorang sebagai profesional secara serius dan resmi, yang telah memiliki keterampilan, keahlian, pengalaman, dan pengetahuan tinggi serta manfaatnya dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau aktivitasnya terhadap pelayanan individu, masyarakat, lembaga/ organisasi, dan negara.


2.     Organisasi.Merupakan wadah tepat untuk mengembangkan kemampuan dan ketermpilan bagi seorang profesional.


3.     Kriteria
Pelaksaan peranan, kewajiban, dan tugas  pekerjaan serta kemampuan profesional tersebut dituntut sesuai degan kriteria.


4.     Kreatif
Seorang profesional harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan ide dan gagasan yang kaya dengan buah pikiran yang cemerlang, inovatif, dan kreatif.


5.     Konseptor
Seorang profesional paling tidak memiliki kemampuan untuk membuat atau menciptakan konsep- konsep kerja atatu manajemen Humas/ PR yang jelas.

Etika Penulis PR
Bagi penulis naskah bidang kehumasan (PR Writing Activity) untuk mengembangkan suatu etika penulisan di media untuk melakukan komunikasi persuasif, dengan menggunakan uji “Etika Formula TARES”, yaitu terdiri dari lima prinsip- prinsip moral dalam teknik penulisan di berbagai media publikasi, public relations, sebagai berikut uji etika penulisannya:


  • Truthfulness

Ketika PR sebagai penulis ingin menjelaskan informasi, dan berita tentang suatu peristiwa atau kegiatan, penjelasan serta pernyataan tertentu maka haruslah berdasarkan kejujuran dan kebenaran apa adanya.

  • Authenticity

Keaslian atau autentik bagi pihak praktisi PR yang akan mengeluarkan informasi atau pesan- pesan persuasif lainnya yang ingin dipublikasikan melalui media komunikasi tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara terbuka dan dengan narasumber yang jelas.

  • Respect

Menghargai dan menghormati martabat pihak khalayak pembaca sebagai personal yang memiliki tingkat perbedaan kemampuan intelektual tertentu.

  • Equity

Ekuitas atau hak kewajaran dalam prinsip- prinsip keadilan yang diperlukan untuk menyampaikan pesan- pesan persuasif yang baik kepada khalayak publknya, untuk menghindarkan sasaran kritikan dari pesan terlalu berlebihan.

  • Sosial Responsibility

Ketika menyampaikan pesan- pesan persuasifnya dan mencapai suatu tujuan secara objektif yang sekaligus merupakan bagian dari kode etik “ profesional public relations” dengan memiliki rasa tanggung jawab.



APLIKASI KODE ETIK PROFESI HUMAS

Berten K. (1994) mengatakan bahwa kode etik profesi merupakan norma yang telah ditetapkan dan diterima oleh kelompo profesi dan untuk mengarahkan atau memberikan petunjuk kepada para anggotanya, yaitu bagaimana “seharusnya” (das sollen) berbuat dan sekaligus menjamin kualitas moral profesi yang bersangkutan dimata masyarakat untuk memperoleh tanggapan yang positif.
Kode Etik Profesi Humas
Menurut G. Sachs dalam bukunya The Extent and Intention of PR and Information Activities terdapat tiga konsep peting dalam etika kehumasan sebagai berikut:

1.     The image, the knowledge about us and the attitudes toward us the our different interest groups have (Citra adalah pengetahuan mengenai kita dan sikap terhadap kita yang mempunyai kelompok- kelompok dalam kepentingan yang saling berbeda).

2.     The profile, the knowledge about an attitude towards, we want our various interest group o have. ( Penampilan merupakan pengetahuan mengenai suatu sikap terhadap yang kita inginkan untuk dimiliki kelompok kepentingan kita yang beragam)

3.     The ethics is branch of philosophy, it is a moral philosophy or philopsophical thinking about morality. Often used as equivalent it right or good. (Etika merupakan cabang dari ilmu filsafat, merupakan filsafat moral atau pemikiran filosofis tentang morallitas, biasanya selalu berkaitan dengan nilai- nilai kebenaran dan kebaikan).

Kode Etik Profesi Prsa
Kode Etik (Code of Profesional Standards) PRSA sudah ada sejak tahun 1946, yaitu berisikan perilaku atau prinsip- prinsip tindakan yang etis sebagai berikut:

1.     Advocasy, yaitu memberikan pelayanan bertanggung jawab terhadap pembelaan (advocacy) publik yang diwakilinya.

2.     Honnesty, kejujuran selalu melekat yang merupakan nilai standar tertinggi dari nilai akurasi dan kepercayaan.

3.     Expertise, suatu keahlian atau kemampuan khusus yang diperlukan untuk mengemban tanggung jawab sebagai profesional PR.

4.     Independence, kebebasan dalam melaksanakan pemberian nasehat secara objektif dan memiliki kewajiban akuntanbilitas PR tinggi terhadp pihak yang diwakilinya.

Secara garis besar perwujudan perilaku seseorang dalam menghadapi segala persoalan ditentukan oleh berbagai faktor (Djamaludin Ancok dan Tim, 1992:98-99) yang dapat dilihat dari rumus berikut:
                                                                       
P = f (O+L)

Artinya:  P  = perilaku
               f   = fungsi
               O = hal yang berkaitan dengan faktor internal
               L = hal yang berkaitan dengan faktor eksternal lingkungan

Kode Etik Humas Religional Asean (FAPRO)
FAPRO (Federation of Asean Public Relations Organisations) dalam siding umumnya di Manila pada tanggal 27 Maret 1978, mengesahkan suatu pedoman kode etik yaitu “Kode Praktik Profesional dan Etik” (Code of Profesional Practice and Ethics) yang terdiri dari mukadimah dan enam pasal pokok, sebagai berikut:

Preambul
Menyatakan keinginan untuk memajukan praktik PR yang sehat dan bertanggung jawab.
Sesuai dengan prinsip- prinsip Deklarasi ASEAN, maka dirumuskan kode profesi dan etik bagi para praktisi Public Relations ASEAN

Tujuan
Para praktisi Publlik Relations ASEAN akan taat pada tujuan- tujuan yang tercantum dalam Konstitusi FAPRO.
2.    Integritas Pribadi dan Profesi
3.    Perilaku terhadap Klien dan Majikan
4.    Perilaku terhadap Publik dan Media
5.    Perilaku terhadap Rekan Seprofesi
6.    Hubungan dengan ASEAN

Aspek Hukum Komunikasi Kehumasan
Pada era pemerintahan reformasi yang demokratik dan menganut sistem politik terbuka Indonesia berhadapan dengan “kebebasan pers” dan konsistensi pelaksanaan HAM sesuai dengan UU No. 40/1999 tentang Pers, tambahan Pasal 28 F UUD 45 dan seirama dengan Pasal 21, Tap XVII/MPR/1999 yang berbunyi sebagai berikut.

“ Setiap orang berhak ubtuk mencari, memperoleh, memiliki, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”

Terdapat pertimbangan patut dan tidak patut untuk memberitakan hal- hal yang menyinggung perasaan kesusilaan, SARA (Suku, Agama, Ras), mengenai kehormatan nama, atau martabat seseorang. Oleh karena itu, ketentuan pidana (produk legislatif) merupakan pembatasan yang sah terhadap kebebasan pers dan bersifat limitatif.

  1. Penghinaan dalam legislatif, yaitu penghinaan biasa dan penghinaan ringan, baik secara material dan formal;
  2. Berita hasutan dan kebohongan;
  3.   Blasphemy, yaitu penghinaan terhadap nilai agama;
  4.   Pronografi (dalam bentuk tulisan, gambar dan lisan);
  5. Keamanan nasional dan ketertiban umum (National security and public order);
  6. Pernyataan yang menghambat jalannya peradilan (impede the fair administration of justice)
  7. Pernyataan terhadap seseorang atau telah memvonis seseorang bersalah atau yang menjadi urusan pengadilan (trial by the press)
  8. Penghinaan atau pelecehan terhadap pengadilan atau jalannya suatu proses siding peradilan (comtempt of court)

Etika Humas Pemerintah Dan Bumn

A.   Humas Pemerintah
Menurut Dimock dan Koening, pada umumnya tugas dan kewajiban pihak humas lembaga pemerintahan adalah sebagai berikut:

  1. Berupaya memberikan penerangan atau informasi kepada masyarakat tentang pelayanan masyarakat
  2. Mampu menanamkan keyakinan dan kepercayaan,serta mengajak masyarakat dalam partisipasinya untuk melaksanakan program pembangunan di berbagai bidang.
  3. Keterbukaan dan kejujuran dalam memberikan pelayanan serta pengabdian dari aparatur pemerintah.


 Keberadaan Humas Pemerintah
Keberadaan departemen kehumasan (Public Relations Departement) disuatu lembaga atau instansi pemerintah merupakan keharusan, baik secara fungsional maupun operasional. Tugas pokok dan kewajiban Humas /PR adalah bertindak sebagai komunikator (narasumber) untuk membantu keberhasilan dalam melaksanakan program pembangunan pemerintah.

Fungsi Pokok Humas Pemerintah

  1. Mengamankan kebijaksanaan dan program kerja pemerintah yang diwakilinya.
  2. Memberikan pelayanan, menyebarluaskan pesan- pesan, dan informasi.
  3. Menjadi komunikaor sekaligus mediator yang proaktif dalam upaya menjembatani kepentingan instansi pemerintah.
  4. Berperan serta secara aktif dalam menciptakan iklim yang kondusif dan dinamis


Peran Taktis dan Strategi Kehumasan Pemerintah/BUMN/BHMN

  1.  Secara taktis dalam jangka pendek, Humas /PR instansi pemerintah berupaya memberikan pesan- pesan atau informasi yang efektif kepada masyarakat sebagai khalayak sasarannya.
  2. Sacara strategis (jangka panjang) Humas/PR instansi pemerintah berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan.


Etika Humas Pemerintah (Bakohumas)

Tugas dan fungsinya sebagai berikut:
1.   Membantu Menteri Penerangan RI (sekarang Menteri Negara Komunikasi dan Informasi) dalam menetapkan kebijaksanaan pembinaan hubungan yang lancar dan harmonis antara masyarakat dan pemerintah.
2.   Mengadakan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan kerja sama antara Humas Departemen dan Lembaga Pemerintah/ Negara.
3.   Merencanakan dan melaksanakan kegiatan- kegiatan kehumasan sesuai dengan kebijaksaan pemerintah.

Tugas, Kedudukan, Tujuan, dan Kegiatan Bakohumas
Tugas:
1.   Membantu pemerintah dalam melancarkan arus informasi antara lembaga pemerintah, dan antarpemerintah dengan masyarakat.
2.   Mengadakan koordinasi dan kerja sama anatara Humas Departemen, Lembaga Pemerintah Non- Departemen, Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara, serta BUMN.
3.   Merencanakan dan melaksanakan kegiatan kehumasan

Kedudukan:
1.   Badan Koordinasi Kehumasan , disingkat Bakohumas.
2.   Keanggotaan Bakohumas terdiri dari Humas- humas Departemen, Lembaga Pemerintah Non- Departemen, Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara serta BUMN.
3.   Bakohumas dikoordinasikan oleh Lembaga Informasi Nasional dan bertanggung jawab kepada Menteri Negara Komunikasi dan INformasi.

Tujuan:
1.   Meningkatkan kerja sama layanan informasi dan mengembangkan profesi kehumasan.
2.   Prinsip kerja dalam pencpaian tujuan tersebut.
3.   Kegiatan:
4.   Ikut serta dalam berbagai kegiatan pemerintah, khususnya di bidang layanan informasi.
5.   Melakukan pembinaan dan pengembangan profsi kehumasan.
6.   Meningkatkan fungsi dan kedudukan humas dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah.
7.   Memelihara hubungan kerja sama yang baik dan menciptakan hubungan yang efektif dan harmonis dengn organisasi dan lembaga resmi serta masyarakat.



 SUMBER : Rosady Ruslan. S.H.,M.M, Etika Kehumasan Konsepsi & Aplikasi, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2011.


Senin, 24 Oktober 2016

Men(g)akali Pikiran : Cara Cerdas Negosiasi, Melobi, Mempengaruhi, & Memprovokasi Orang Lain


Terserah Kau
Ada pertanyaan mengenai keputusan apa yang kita ambil?. Semua itu tergantung dari diri kita sendiri apakah kita merelakan menjadi objek bagi perilaku manusia yang lain, korban tak berdaya dan sia-sia, atau sebaliknya, sebuah pilihan lain berupa jalan yang membuat kita memasuki kehidupan baru, mempelajari pengetahuan baru yang dapat diketahui dari buku ini.

Gerbang Terbuka
Sebagai manusia yang hidup di dunia ini, sudah seharusnya pun dalam melakukan sesuatu perlu berpikir selayaknya seorang manusia. Hal yang menguntungkan adalah menganggap spesiesmu sebagai makhluk paling mulia dibandingkan yang lainnya. Dan jika ingin menjadi yang terdepan, kita perlu meyakini pula bahwa diri kita sendiri adalah manusia yang lebih unggul dibandingkan dengan yang lainnya. Karena manusia yang dengan berkembang akalnya, melakukan perubahan terhadap dunianya.

Kehidupan yang terpilih
Dalam kehidupan ini, kita mungkin menerima bujuk-rayu, intimidasi, provokasi, dan hal-hal lain yang mempengaruhi diri kita, tetapi kita bisa tetap menjadi pengambil keputusan bagi diri kita sendiri.

Dunia mereka
Sebelum berupaya untuk mempengaruhi orang lain, pahamilah bagaimana dunia pikirannya memaknai sebuah fakta untuk kemudian membentuk realitas bagi dirinya sendiri. Yang nantinya akan diracuni oleh ide kita, demi terbentuknya realitas baru, dunia baru dalam pikirannya, yang sesuai dengan kemauan kita.

Makhluk yang meninggikan dirinya sendiri
Manusia sudah selayaknya kalau kita harus berpikir selayaknya manusia. Dan hal yang menguntungkan adalah menganggap spesies kita sebagai makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan yang lainnya. Jika, kita ingin menjadi yang terdepan dalam spesies kita, kita perlu meyakini pula bahwa diri kita adalah manusia yang lebih unggul dibandingkan manusia yang lainnya.

Cinta dan Benci
Kita perlu memiliki kesiapan terhadap diri sendiri  apabila ingin menjadi subjek atas pikiran dan perilaku sesama manusia dan agar kita tidak diperlakukan menjadi objek orang lain. Jangan pernah menggantungkan segala sesuatunya terhadap orang lain, yakni mereka yang membuatmu menjadi lebih baik, mereka yang memuliakanmu, mereka yang menyemangatimu, dan hal-hal yang baik lainnya. Karena itu yang akan membuat diri kita menjadi objek bagi orang lain. Oleh sebab itu, kita harus memberikan pemisahan antara jati diri manusia dengan perilakunya. Dan jangan pernah mencintai perilaku orang lain, agar tidak kecewa terhadap dia saat dia melakukan kesalahan.

Eksistensi
Orang lain mungkin banyak yang merendahkan atau sebaliknya meninggi-ninggikan kita, tetapi yang harus kita ketahui semua itu hanyalah menguntungkan dirinya dan tidak ada untungnya bagi kita. Beberapa manusia hanya mengakui kekuatannya, dan beberapa yang lainnya hanya berkutat dengan kelemahannya. Agar menjadi subjek bagi orang lain, kita perlu menjadi subjek bagi diri sendiri terlebih dahulu, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan kita, untuk dapat menaklukan diri sendiri maupun orang lain.
Pengamatan
Beberapa situasi, kondisi, dan orang-orang di luar sana mungkin memengaruhi kita, tetapi dengan memahami benar-benar reaksi-reaksi yang timbul dari diri kita dengan perubahan fisik dan emosi. Dan perlu kita ketahui, bahwa sejatinya yang bisa memengaruhi kita adalah diri sendiri. Pengaruh buruk dari orang tidak seharusnya kita terlalu memikirnya karena itu tidak berguna bagi kita. Demikian halnya, jika kita berniat untuk menjadi subjek atas pikiran dan perilaku orang lain, kita pun harus bertindak sama: mengamatinya dengan melepas segala macam bentuk ego dan persepsi kita pula. Kebanyakan orang begitu enggan untuk memperhatikan orang lain, karena untuk memperhatikan diri sendirinya pun tidak selalu dilakukannya. Perhatikan orang lain dengan netral, lalu jadilah pengamat yang baik dan adil bagi orang tersebut.

Konektivitas
Dalam internal manusia memiliki keterhubungan dari tubuh, pikiran, dan perasaannya. Demikian pula dalam dunia eksternalnya yang terkain dengan sosialisasinya. Ada perilaku manusia dalam pola-pola bawah sadarnya mengikuti dan menyamakan diri dengan orang-orang yang dianggap dekat dengannya. Lebih spesifik lagi, dalam berinteraksi manusia bahkan secara naluriah mengikuti berbagai tindakan orang-orang yang dianggap dekat dengannya atau memiliki jalinan kesamaan dengannya. Misalnya di dalam transportasi umum terdapat seseorang yang sedang menguap, ada pula orang lain yang menguap pula.
Konektivitas tanpa sadar seperti ini bahkan bisa terjalin hingga mencapai taraf mendetail dari ekspresi dan gestur dari manusia yang sedang berinteraksi, bercakap-cakap, atau hanya berada dalam kondisi yang sama. Hal-hal mendetail seperti ini meliputi persamaan posisi tubuh, gerakan tubuh, tekanan otot wajah dan tubuh, intonasi suara, mimik wajah, arah mata dan bentuk sorotannya, akses bicara, hingga persamaan kosakata yang digunakan pada saat tersebut. Jika di perlukan, kita dapat melakukan tindakan meniru berbagai pola gestur atau ekspresi orang yang hendak kita pengaruhi, tentu saja dengan tindakan yang halus dan elegan, dan tidak kentara sehingga tidak dipandang oleh orang yang kita pengaruhi sebagai sebuah tindakan yang disengaja atau dibuat-buat.

Lawan atau lari
Prinsip respon lawan atau lari (fight and flight response) dikemukakan pada tahun 1929 oleh Walter Bradford Cannon (psikolog Harvard) yang berlaku pada saraf simpatis (symphatetic nervous system) binatang dan kemudian diadaptasi untuk menjelaskan perilaku manusia dalam memberikan reaksi terhadap tekanan atau stres yang terjadi pada dirinya. Pada zaman dahulu, nenek moyang kita memiliki insting mempertahankan hidup dengan mengembangkan kemampuan melawan (fight) atau lari (flight). Namun sering dengan kemajuan peradaban, manusia semakin membutuhkan kenyamanan sehingga kegiatan perkelahian (fight) berangsur-angsur berkurang dan timbul sebuah kegiatan pengendalian diri dan tumbuhnya kesadaran.

Pengaruh & bujuk rayu
Sebuah sudut pandang tentang persuasi yakni sebuah dalil tombol-tombol emosi manusia lewat lima motivasi psikologi manusia yang dikemukakan oleh orang lain lagi, dalam referensi buku yang menyatakan bahwa orang tersebut bernama Elmer Wheeler.
·         Importance (kepentingan). Merupakan kebutuhan dasar manusia untuk menjadi lebih unggul dibandingkan dengan manusia lainnya.
·         Appreciation (penghargaan). Merupakan kebutuhan seseorang yang menjadikannya mampu meninggalkan pasangan atau pekerjaanya terdahulu atau apapun agar dirinya “dihargai”.
·         Approval (penerimaan). Merupakan keinginan umum seseorang untuk diterima dan disukai orang lain.
·         Ease (kemudahan). Merupakan naluri manusia yang lebih ingin untuk memperoleh sesuatu dengan lebih mudah.
·         Success (keberhasilan). Merupakan naluri manusia untuk dianggap sukses dalam berbagai hal, termasuk uang, kedudukan, atau pasangan.

Hal ini mengenai seni membujuk rayu, memprovokasi, dan memperngaruhi, membajak pikiran dan perilaku orang lain untuk menuruti apa yang kita kehendaki, yang seakan-akan berda dalam keputusannya sendiri. Layaknya sebuah racun yang dicampurkan ke dalam gelas anggurnya, yang tetap terasa manis saat diminum, tetapi mematikan.

Figur
Memanfaatkan sumber daya atau kemampuan ada pada diri sendiri itu lebih baik daripada bergantung pada pihak lain. Karena dalam pikiran, berbagai informasi, termasuk kecerdasan dan kepiawaian mental pihak lain, tentunya sudah di serap dan menjadi hak milik kita.  Jika membutuhkan sikap mental tertentu yang dimiliki orang-orang lain, baik orang lain yang pernah ada atau hanya dalam khayalan atau bahkan diri sendiri, berpura-puralah dengan seluruh penghayatan kita bahwa kita telah menjadi figur tersebut.

Citra
Manusia mempunyai naluri untuk mencari kesamaan atau hal-hal ideal dalam pikirannya yang bahkan tidak bersifat penampakan fisik. Perkembangan prosen pikirannya membanya pada pencitraan akan hal lain yang dianggap sama atau idel baginya.

Intermezo: dilema benar-salah
Konon seorang filsuf Yunani kuna Protagoras mengajar hal-hal berkaitan dengan hukum, memberikan beasiswa kepada seorang murid yang miskin tetapi dianggap sangat potensial. Beasiswa tersebut tidak bersifat cuma-Cuma. Protagoras meminta murid pandainya tersebut kelak melunasi seluruh biaya sekolah setelah memenangi kasus dipengadilan untuk pertama kalinya. Namun, setelah sekian lama si murid merasa tidak tertarik untuk menangani kasus-kasus hukum sehingga Protagoras merasa rugi dan mengajukan tuntutan hukum kepada si murid.

Intermezo : mendeteksi kebohongan
Banyak pembohong yang bisa menutupi kebohongannya dan ada pula beberapa orang jujur yang karena alasan-alasan tertentu, justru menunjukkan gerak-gerik yang identik dengan sinyal kebohongan. Pembohong yang tidak biasa berbohong, bisa menyambar sebuah jalan keluar palsu yang kau berikan kepadanya, sebuah fakta palsu yang bisa membuatnya merasa bahwa jalan keluar tersebut mengukuhkan kebohongannya dan merasakan keamanan. Hal-hal yang berkaitan dengan emosi manusia dari pikirannya, memengaruhi ekspresi dan gerakan-gerakan lain dari tubuhnya, termasuk kegelisahan, ketakukan, panik, ketidaknyamanan, kehati-hatian, dan hal-hal lain yang biasa terjadi ketika manusia melakukan kebohongan dan berupaya menutupinya. Kebiasaan melakukan “Pengamatan” akan membuat kita lebih mudah memahami kapan seseorang berbohong kepada  kita, atau sebaliknya benar-benar jujur pada kita. Sebagai seorang pengamat engkau harus mengambil posisi yang benar-benar netral dan tidak memihakatau menghakimi objek kita, serta yang lebih penting lagi, tidak memihak diri kita sendiri.

Make Up
1.    Emosional
Beberapa make-up dalam pembentukan kalimat dengan memilih kata-kata tertentu yang mengandung makna tuntutan emosional lawan bicaramu juga sangat bermanfaat, seperti “Dapat anda rasakan seandainya...”, ”Bayangkanlah saja...”, “Imajinasikan jika ini berhasil...”, “Ini dapat membuatmu nyaman...”, atau “Ini tentulah menyenangkan anda...”

2.    Repetisi atau Pengulangan
Merupakan seni mengulang suatu kata atau kalimat yang sebenarnya merupakan pernyataan dengan makna yang sama dengan harapan akan lebih memberikan nuansa persuasif yang dapat menancap dalam-dalam di benak objek kita. Ini sebuak make-up yangjika dinyatakan dengan tepat akan membuat komunikasimu lebih cantik.

3.    Kekinian atau Present
Merupakan sebuah make-up kalimat yang bertujuan memanipulasi lawan bicara untuk mendapatkan sensasi dari kalimatmu saat ini juga, bukan pada waktu yang akan datang. Tujuannya untuk melandaskan pernyataan yang kita sampaikan tersebut dalam kreasi pikirannya saat itu juga.

4.    Pribadi atau Personal
Tentang prinsi make-up yang digunakan untuk mengarahkan persuasif kita secara tepat sasaran dan menancap kuat di dalam benak objek kita dengan pengadaptasian kata-kata yang bersifat pribadi atau bahkan nama objek kita secara langsung.

5.    Metafora atau Metaphor
Merupakan prinsip komunikasi yang menguatkan benak lawan bicara dengan menitikberatkan deskripsi pembicaraan kita dalam bentuk bercerita. Metafora sering dilihat sebagai fungsi kognitif dasar menurut pendekatan linguistik kognitif, yaitu manusia secara alamimelihat ciri-ciri umum  dalam setiap kegiatan hidup yang didasarkan  pada fakta-fakta yang berbeda, dan perilaku seperti itu diperlukan untuk pemahaman dan pembelajaran hidupnya. Berhati-hati dlam mengungkapkan bentuk metafora, pelajarilahlawan bicaramu terlebih dahulu untuk membentuk metafora yang pas, karena jika tidak, kau bisa dianggap berlebigan atau hiperbolik.

Strategi
1.    Perbandingan dan tanpa perbandingan
Prinsip perbandingan dan dan tanpa perbandingan adalah seni bagaimana menggunakan kecerdasanmu untuk menggali hal-hal yang belum tampak.
2.    Deduksi dan Induksi
Merupakan dua cara berbeda dari manusia dalam berpikir dengan logikanya. Deduksi adalah seni memerintah yang kemudian diberi alasan atau argumentasi tambahan untuk melengkapinya saja (bentuk repetisi). Sementara itu, induksi menunjukkan alasan-alasan atau berbagai argumentasinya terlebih dahulu sebelum memberikan saran kepada orang lain.
3.    Fakta dan Ide
Ini adalah seni memanipulasi “pembenaran” yang dicampurkan dalam sebuah atau beberapa “kebenaran”  sehingga “pembenaran” tersebut dianggap sebagai “kebenaran” bagi objekmu. Kita perlu menyertakan beberapa fakta yang tidak tersanggahkan dan kemudian menyisipka ide atau saran dengan tujuan resistensi atau penolakan dari objekmu telah melemah karena logikanya telah mengiyakan apa yang telah kita nyatakan sebelumnya.
4.    Manfaat dan Keuntungan
Dalam seni memengaruhi, perbedaan yang jelas dari “manfaat” dan “keuntungan” perlu kita ketahui, karena kedua kata ini yang tampaknyabermakna identik menunjukkan sebuah hakikat yang bisa berbeda daya pengaruhnya, yang menimbulkan efek yang berbeda pula. Saat melakukan bujukan atau persuasi terhadap lawan bicara berikanlah suatu penegasan “keuntungan” di balik pernyataan “manfaat-manfaat” yang kau berikan.
5.    Yes Set
Pola Yes Set ini digunakan untuk orang yang cenderung pasif, meskipun dia tetap tidak menganggap kita sebagai figur yang lebih superior dibandingkan dirinya. Di tangan yang ahli menggunakannya, ini adalah seni bujuk rayu yang berefek dahsyat.
6.    Bertahap atau Progresif
Prinsip ini membiasakan si objek untuk mengiyakan apa yang kita inginkan, dalam hal ini menyetujui apa yang kita anjurkan, yang dimulai dari pernyataan-pernyataan yang bersifat “seharusnya demikian/seharusnya disetujui”karena merupakan “fakta” dan kemudian disispi oleh suatu bujukan yang berupa “ide”.
7.    Lakukan dengan jangan lakukan
Sebuah cara alternatif lainnya untuk mengelabui resistensi (keraguan) yang timbul dari logika berpikir objek kita. Strategi ini adalah “bersahabat” dengan keraguan yang ada pada objek kita, yang justru kita nyatakan terlebih dulu untuk kemudian kita tenggelamkan kembali dalam-dalam.
8.    Penolakan dibalik persetujuan
Pada prinsipnya, tidak ada orang yang serta-merta bersedia untuk “ditolak”, karena dia akan merasakan hal yang kurang nyaman apalagi jika ia menganggap dirinya lebih superior dibandingkan dengan orang yang menolaknya. Penolakan dibalik persetujuan ini adalah pernyataan kontraproduktif yang bisa menggagalkan semua bentuk bujukan persuasif kita dalam semua bentuk pola yang ada.

Sesat logika
1.    Sebab-akibat: Membenarkan akibat
Ini adalah sebuah manipulasi logika dari pernyataan yang secara mendasar distrukturkan dari alur logika “jika..., maka...”.
2.    Sebab-akibat: Menyangkal sebab
Ini adalah sebuah pola lain dari bentuk sebab-akibat dengan struktur dasar alur logika “jika..., maka,,,” yang bisa memanipulasi mereka yang tidak waspada.
3.    Pertengahan tak terdistribusi
Ini adalah pola yang meberikan ilusi terhadap perbedaan muatan “sebagian” dan “semua” terhadap sebuah fakta sehingga memanipulasi logika manusia.

4.    Quarternio Terminorum
Ini adalah kumpulan pernyataan yang menghubungkan kesamaan dari suatu hal dengan hal yang lainnya lagi secara berurutan untuk kemudian diambil kesimpulan yang menyesatkan.

Intermezo: Nested Loops
Teknik nested loops merupakan pola untuk memberikan suatu pesan yang efektif menuju fungsi bawah sada manusia dan memanfaatkan kondisi trance, yang diselubungkan lewat berbagai pernyataan yang disebut dengan “sangkar” (nested) dan distrukturkan lewat “loop”. Ketika pikiran manusi dibebani oleh cerita yang tidak lengkap akan terjadi proses pembebanan di tingkat fungsi bawah sadarnya (usconscious) karena “keinginan untuk mendengarkan sisa cerita”.

Drama
Penulis mengibaratkan sama halnya dngan kita menyajikan suatu pertunjukan drama secara langsung, dan kita dapat menempatkan diri sebagai sutradara sepenuhnya. Dengan memahami tujuan akhirnya, sebuah ending pertunjukan yang penuh kesan, kita sendirilah yang menentukan, apakah sebagai sutradara kita perlu mengambil posisi dibelakang layar saja, ataukah sebaliknya turut mengambil peran sebagai bintang utama atau pemeran pembantu. Penulis menyatakan saat kita mempersiapkan dengan baik segala sesuatunya dan kita sajikan dengan indah, hasil memuaskan sesuai dengan tujuanmu niscaya tercapai. Sebaliknya, jika kita serampangan, hasil yang buruklah yang akan didapatkan.

Intermezo: The Saw
Memanfaatkan kecerdasan secara beruntun kepada semua orang dan kapan justru menjadikan orang tahu seberapa cerdasnya diri kita. Dan itu malahan membuat kita tampak bodoh karena sesamamua mengetahui dengan jelas apa adanya diri kita. Sembunyikan kecerdasaan kita dan pergunakan saja kepada orang-orang yang tepat.

Kata-kata mutiara
1.    Tentang kehidupanmu
“Lebih baik aku mengkhianati duniaku daripada dunia yang mengkhianatiku,”(Cao Cao)

2.    Tentang pengetahuanmu
“Hanya dengan keindahanlah manusia dapat memasuki dunia pengetahuan.” (Friedrich Schiller)

3.    Tentang perilakumu
“Penipu yang andal adalah pelaku seni sulap yang andal pula.” (Adolf Hittler)

4.    Tentang sesamamu
·                     “Seorang sejati tidak membenci siapapun.” (Napoleon Bonaparte)
·                     “Berlajarlah dari orang banyak, kemudian ajarilah mereka.” (Mao Zedong)

5.    Tentang perselisihan dan peperangan
“Jangan pernah meremehkan kekuatan dari musuhmu , tak peduli apakah ia besar atau kecil, mereka tetap berkemungkinan untuk menyerangmu pada suatu waktu.” (Atilla the Hun)

Cosa Nostra
 kita menjadi penguasa atas pikiran dan perilaku sesama manusia, menjadi mastermind dari segenap perbuatannya, sebagai dalang dibalik layar atau tokoh paling penting, baik dikenal maupun tidak. Dan pergunakanlah ini dengan semestinya, karena memanfaatkannya dengan tidak cerdas akan merugikan diri sendiri.

Armageddon & Dunia baru
Ketika semua orang berlomba-lomba mengambil peran sebagai penentu atas kehidupan yang lainnya, yang terjadi adalah kegiatan saling menaklukan dan bukannya atas dasar untuk bekerjasama membangun dunia ini menjadi lebih baik. Konon, saat pendekar terbaik dimuka bumi ini telah menaklukkan siapa saja, dia bukannya menjadi berbangga, tetapi merasakan kehampaan dalam hidupnya. Karena apa yang dihadapinya sudah tidak menarik lagi sehingga dia memutuskan untuk menaggalkan kemampuannya dan menjalani “turun kelas”, menjalani hidup yang baru dengan menjadi manusia biasa lagi. Dan disitulah ia menemukan gairahnya kembali.

SUMBER : Willy Wong,  Mengakali Pikiran: Cara Cerdas    Negosiasi, Melobi,  Mempengaruhi, & Memprovokasi Orang Lain, Visimedia, Jakarta, Cetakan ke 2, 2012