Jumat, 01 Juli 2011

Gaya Menulis

Sebelum menulis, seorang penulis dihadapkan dengan banyak peringatan yang mengharuskannya untuk merangkai kalimatnya dengan baik; tidak melebar ke mana-mana. Namun, seorang penulis mungkin akan bertanya, "Jika saya menghapus semua yang menurut Anda kacau, dan jika saya menggunduli setiap kalimat sampai kepada intinya saja, apa yang tersisa untukku?"

Pertanyaan tersebut muncul karena tidak banyak orang yang menyadari betapa buruk tulisan mereka. Tidak ada yang memberitahu mereka tentang gaya tulisan mereka yang terlalu berlebihan dan bagaimana hal itu dapat merintangi apa yang ingin mereka katakan. Jika Anda memberikan artikel sepanjang delapan lembar kepada saya, dan kemudian saya menyuruh Anda untuk memotongnya hingga menjadi empat lembar, Anda akan berteriak dan mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Meski demikian, Anda tetap mengerjakannya, dan hasilnya tulisan itu menjadi lebih baik.

Intinya adalah bahwa Anda harus menggunduli tulisan Anda sebelum Anda dapat merekonstruksinya. Anda harus tahu alat-alat apa yang penting dan fungsinya masing-masing. Metafora pekerjaan tukang kayu; adalah penting untuk pertama-tama mampu menggergaji kayu dengan rapi dan memaku, baru setelah itu Anda mengukur ujung-ujungnya atau menambah elemen elegan, jika itu adalah selera Anda. Anda tidak boleh lupa bahwa Anda menangani suatu karya yang berdasar atas prinsip-prinsip tertentu. Jika pakunya lemah, rumah Anda akan roboh. Jika kata kerja Anda lemah dan sintaksis Anda reyot, kalimat Anda akan roboh.

Yang sering kali menjadi masalah adalah Anda menjadi tidak sabar untuk menciptakan sebuah "gaya" -- menghiasi kalimat sederhana sehingga pembaca akan mengenali Anda sebagai seseorang yang spesial. Anda akan menggunakan simile yang terlalu menyolok dan kata-kata sifat yang berlebihan, seolah-olah "gaya" adalah sesuatu yang dapat Anda beli di toko dan kemudian Anda bubuhkan pada kalimat Anda. Tidak ada gaya yang dijual di toko; gaya adalah karakter orang yang menulis, layaknya rambut yang melekat di kepalanya, atau, jika orang itu botak, gaya adalah layaknya kekurangannya akan rambut. Mencoba untuk menambah gaya adalah seperti memakai rambut palsu. Sekilas, orang yang tadinya botak itu terlihat muda dan bahkan tampan. Namun, jika dilihat lagi, ia tidak nampak seperti dirinya sendiri.

Itulah masalah para penulis yang dengan sengaja menghiasi tulisan mereka. Mereka kehilangan, apa pun itu, yang membuat mereka unik. Pembaca akan mengetahui bahwa mereka terlalu berlebihan. Pembaca ingin agar orang yang berbicara kepada mereka terdengar apa adanya. Karena itu, aturan yang paling mendasar adalah: menjadi diri sendiri.

Tidak ada peraturan yang terlalu berat untuk diikuti. Menjadi diri sendiri mengharuskan penulis untuk melakukan dua hal yang sepertinya mustahil untuk dilakukan oleh seorang penulis -- santai dan percaya diri.
Memberitahu penulis untuk santai adalah seperti memberitahu seseorang untuk santai saat ia diperiksa apakah ia mengidap hernia. Pun dengan masalah kepercayaan diri, lihatlah bagaimana seorang penulis sangat kaku saat duduk, menatap layar monitor yang menunggu ketikan kata-katanya. Lihatlah bagaimana ia sering kali berdiri dan mencari makanan atau minuman. Seorang penulis akan melakukan apa pun agar ia tidak menulis. Dari pengetahuan yang saya dapat dari sebuah koran, jumlah banyaknya seorang penulis berdiri untuk mengambil air, jauh melebihi jumlah kebutuhan tubuh mereka akan air.

Apa yang dapat dilakukan untuk melepaskan penulis dari penderitaan itu? Sayangnya, sampai saat ini belum ada obatnya. Saya hanya dapat memberikan sebuah pemikiran yang menghibur, bahwa Anda tidaklah sendiri. Hari-hari tertentu akan lebih baik daripada hari-hari lainnya. Hari-hari tertentu mungkin akan menjadi hari yang sangat buruk sehingga membuat Anda putus asa untuk mulai menulis lagi. Kita semua pernah mengalami hari-hari itu dan akan mengalami lebih banyak masa-masa seperti itu.

Namun, adalah baik untuk meminimalisir terjadinya masa-masa buruk, yakni dengan mencoba bersantai.

Asumsikan bahwa Anda adalah penulis yang sedang duduk menulis. Anda sudah menetapkan bahwa Anda akan menulis artikel dengan panjang tertentu dan jika panjang artikelnya tidak mencapai target, artikel Anda tidak akan ada gunanya. Anda berpikir bagaimana tampilan artikel itu nanti saat sudah dicetak. Anda memikirkan semua orang yang akan membacanya. Anda berpikir bahwa tulisan Anda harus memiliki beban otoritas yang cukup kuat. Anda bepikir bahwa gaya harus memesona. Jika Anda seperti itu, tidak heran jika Anda terikat; Anda terlalu sibuk memikirkan tanggung jawab Anda yang luar biasa atas artikel yang bahkan belum bisa Anda tulis.

Paragraf pertama biasanya adalah sebuah bencana -- kumpulan ide-ide umum yang sudah keluar dari topik. Paragraf 2 juga tidak lebih baik. Namun, paragraf 3 mulai menyiratkan sisi kemanusiaan, dan pada paragraf 4, Anda mulai terdengar seperti diri Anda sendiri. Anda sudah mulai mencoba untuk santai. Menakjubkan bagaimana seorang editor sering membuang 3 atau 4 paragraf dari sebuah artikel, atau bahkan beberapa halaman utama, dan mulai dengan paragraf di mana penulis mulai terdengar seperti dirinya sendiri. Paragraf-paragraf pertama itu tidak hanya impersonal dan bertele-tele, paragraf-paragraf itu juga tidak berkata apa-apa -- paragraf-paragraf itu hanyalah hasil sebuah sikap sadar untuk membuat sebuah pengantar yang penuh khayal. Apa yang selalu saya cari sebagai seorang editor adalah kalimat yang mengatakan sesuatu seperti: "Aku tidak akan pernah melupakan hari di mana aku ...." Saat saya menemukannya, saya berpikir, "Aha! Ada sisi kemanusiaannya (perhatikan kata 'aku')!"

Penulis jelas akan paling terlihat natural saat mereka menulis dalam orang pertama. Menulis adalah transaksi intim antar dua orang, yang dilakukan di atas secarik kertas, dan transaksi itu akan berjalan baik selama tulisan itu memelihara sisi kemanusiaannya. Karena itu, saya mendorong orang-orang untuk menulis dengan gaya orang pertama: menggunakan "saya" dan "kami".

"Siapa saya mengatakan apa yang saya pikirkan?" tanya mereka. "Atau apa yang saya rasakan?"

"Siapa Anda tidak mengatakan apa yang Anda pikirkan?" jawabku pada mereka. "Hanya ada satu Anda. Tidak seorang pun yang pikiran dan perasaannya sama persis."

"Tapi tidak ada yang peduli dengan pendapat saya," kata mereka.
"Mereka akan peduli jika Anda memberitahu mereka sesuatu yang menarik," kataku, "dan beritahu mereka melalui kata-kata yang keluar secara alami."
Namun demikian, membuat penulis untuk menggunakan "saya" adalah tidak mudah. Mereka pikir mereka harus mendapatkan hak istimewa untuk mengungkapkan emosi dan pemikiran mereka. Karena kalau tidak, mereka akan dianggap terlalu egois. Atau tidak bermartabat -- sebuah ketakutan yang menimpa dunia akademik. Karena itu, kaum profesional menggunakan kata "seseorang" ("Seseorang menemui bahwa dirinya tidak sejalan dengan Dr. Maltby tentang kondisi manusia") atau kata yang kurang pribadi ("di-") ("Diharapkan monograf Prof. Felt akan menarik banyak pendengar yang sesuai"). Saya tidak mau bertemu dengan "seseorang" -- ia adalah orang yang membosankan. Saya ingin seorang profesor yang benar-benar berdedikasi pada subjeknya untuk memberitahu saya mengapa subjek itu membuatnya tertarik.

Saya menyadari bahwa ada banyak area penulisan di mana kata "saya" tidak boleh dipakai. Koran tidak mau ada kata "saya" di berita mereka. Begitu juga artikel di majalah, laporan bisnis dan institusi, serta disertasi. Para guru bahasa Inggris pun tidak mau melihat adanya pemakaian kata pengganti orang pertama, kecuali "kami". Larangan-larangan itu sah. Artikel dalam koran harus berisi berita yang yang dilaporkan secara objektif. Saya juga memaklumi guru-guru yang tidak mau memberikan murid-muridnya jalan mudah untuk berpendapat seperti "Saya rasa Hamlet itu bodoh" padahal mereka belum benar-benar menganalisa sebuah karya dan referensi-referensi pendukungnya. Kata "saya" dapat menjadi sebuah cara untuk menjadi terlalu longgar pada diri sendiri dan melarikan diri dari tanggung jawab.

Namun demikian, masih mungkin untuk menyampaikan makna keakuan tanpa menggunakan kata "saya". James Reston, seorang kolumnis politik, tidak menggunakan kata "saya" dalam tulisannya; namun, saya memiliki citra yang baik terhadapnya, dan saya juga dapat menyebut kolumnis dan reporter lain yang juga baik. Penulis yang baik terlihat dari kata-katanya. Jika Anda tidak diperbolehkan menggunakan "saya", setidaknya berpikirlah "saya" saat Anda menulis, atau menulis draf dalam bentuk orang pertama dan kemudian buang kata "saya". Hal ini dapat melatih gaya impersonal Anda.
Jual diri Anda, dan topik tulisan Anda akan menyiratkan daya tariknya sendiri. Percayalah pada identitas dan pendapat Anda sendiri. Menulis adalah suatu sikap ego. Gunakan kekuatannya untuk membantu Anda agar dapat terus menulis. (t/Dian)
 
Diringkas dari:


On Writing Well : "Style", William ZinsserHarperCollins Publishers, ringkasan Dian Pradana,  Inc., New York 1998, h.18-24












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...