Selasa, 07 September 2010

Persfektif dalam Teori Komunikasi

Slide 2

Perspektif bisa diartikan Sudut pandang atau cara pandang kita terhadap sesuatu. Cara memandang yang kita gunakan dalam mengamati kenyataan akan menentukan pengetahuan yang kita peroleh. Suatu perspektif tidak berlaku secara semena – mena. Rumah adalah rumah, tidak mungkin atas nama perspektif ia dianggap jeruk.

Jadi, perspektif pada satu sisi menyerap benda itu sekaligus makna dari pengetahuan tentang benda itu dalam kerangka epistemologis. Perspektif selalu mendahului observasi kita. Kita bisa saja mengamati suatu peristiwa dengan pikiran kita yang terbuka dan netral, namun begitu kita harus mengobservasi suatu hal, kita akan melakukannya dengan cara tertentu.  

Nilai perspektif kita tidak terletak dalam nilai kebenarannya atau seberapa baik ia mencerminkan realitas yang ada. Semua perspektif yang dapat diperoleh adalah benar dan mencerminkan realitas, walaupun setiap perspektif pada tahap tertentu kurang lengkap serta didistorsi.

Jadi yang menjadi inti adalah upaya mencari perspektif yang dapat memberikan kepada kita konseptualisasi realitas yang paling bermanfaat bagi pencapaian tujuan kita. Istilah paradigma dari Kuhn diinterpretasikan begitu berbeda-beda sehingga mencegah penggunaannya secara netral. Simpulnya, pengunaan perspektif cukup tepat bagi ilmu komunikasi, salah satu alasannya dapat ditemukan pada apa yang dipaparkan oleh Fisher.

Fisher mengungkapkan bahwa : “...Bilamana seseorang mengamati peristiwa komunikasi, orang tidah memandang apakah orang itu yakin pada teori komunikasi tertentu atau memegang teguh proposisi aksiomatis tertentu dalam benaknya. Yang terlihat olehnya adalah bahwa orang tadi membuat gerakan dan suara tertentu. Relevansi atau arti pentingnya dari gerakan dan suara itu merupakan produk dari konsep yang dipergunakan untuk memahami peristiwa komunikatif tersebut. Konsep itu menentukan apa yang relevan dalam peristiwa tadi ; dan dalam pengertian ini maka apa yang tidak dicakup oleh orang tadi, dicakup oleh konsep tadi dan dinyatakan sebagai hal yang tidak relevan”  (Fisher, 1990:89)

Pengukuran dan bebas nilai, yang khas perspektif posotivisme, berarti mengakurkan teori pada realitas sambil menyatakan bahwa apa yang ditemukan adalah apa adanya, tanpa intervensi dari subyek pengamat. Menggunakan perspektif berarti menyadari bahwa suatu pemahaman selalu dibangun oleh kait kelindan antara apa yang diamati dan apa yang menjadi konsep pengamatan.

Konsekuensi dari penggunaan perspektif adalah kearifan untuk menyatakan bahwa apa yang kita ketahui sekarang bukanlah kebenaran mutlak, melainkan hanya pemahaman yang diciptakan manusia. Dan karena pemahaman kita adalah produk kemanusiaan, maka ia tunduk para perubahan konseptual sebagaimana secara historis kita telah mengubah konsep dan perspektif untuk menciptakan pemahaman kita ini.
Penggunaan perspektif dapat mengimbangi keberubahan fakta sosial yang terus berubah itu.

Konsekuensi lain adalah bahwa kita sebenarnya tidak menemukan realitas, melainkan “menciptakan” realitas..soalnya, ketika kita melakukan penelitian saat itu kita mengamati sesuatu “dengan cara tertentu”. Mau tidak mau terpaksa kita mengorganisasikan pengamatan dan persepsi kita serta tidak dapat menghindarkan diri dari mengorganisasikannya.

Bagaimana seseorang seharusnya menggunakan pelbagai perspektif komunikasi manusia?haruskah kita berusaha mempergunakan semua perspektif secara bersamaan?.

Fisher (1990:439) mengungkapkan kembali, “Sudah tentu tidaklah mungkin – secara konseptual ajeg. Penggunaan perpektif yang paling nyata haruslah secara sadar tanggap pada perspektif  yang dipakai, apa implikasinya, dan keman ia mengarahkan kita. Kita harus tanggap pada pertanyaan apa yang dapat ditanyakan dan karenanya dapat dijawab dalam rangka perspektif itu. Kita perlu mengetahui pertanyaan-pertanyaan apa yang tidak dapat dipertanyakan, dan karenanya juga tidak dapat dijawab. Kita perlu mengetahui apa yang seharusnya kita ketahui dan bagaimana menggunakan perspektif yang paling tepat untuk membawa kita pada pengetahuan / pamahaman itu.”

Tiga perspektif ontologi dan epistemologi :

1.      Realisme
      Beranggapan bahwa benda-benda atau objek yang diamati sebagai apa adanya, telah berdiri disana secara benar, tanpa campur tangan ide dari pengamat.
      konsekuensinya nilai kepercayaan, emosi dan apapu yang dimiliki oleh diri subjek pengamat dilarang untuk terlibat ketika mengamati sesuatu.
2.      Nominalis
      Menganggap bahwa dunia sosial adalah eksternal pada persepsi individu, tersusun tidak lebih dari sekedar nama, konsep dan label yang digunakan untuk membuat struktur realitas. Seorang subjektifis, secara epistemologis meyakini bahwa dunia sosial pada dasarnya adalah relatif dan hanya bisa dipahami dari sudut pandang individu yang terlibat langsung dalam aktifitas yang dipelajari.
3.   Konstruksionis
      Konstruktivisme mengatakan bahwa kita tidak pernah dapat mengerti realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Yang kita mengerti adalah struktur konstruksi kita akan suatu objek.
      Konstruksivisme tidak bertujuan mengerti realitas tetapi lebih hendak melihat bagaimana kita menjadi tahu akan sesuatu.
       
Bagaimana halnya dengan kebenaran?

Bagaimana orang tahu bahwa pengetahuan yang kita konstruksikan itu benar, bagi kaum konstruktivis, kebenaran diletakkan pada viabilitas yaitu kemampuan suatu konsep atau pengetahuan dalam beroperasi.  perspektif yang berkembang pada ilmu komunikasi sebenarnya sangat beragam, namun pada buku ini akan dibatasi pada perspektif yang bersangkut paut dengan penelitian.

Perspektif itu meliputi positivisme, post-positivisme, interpretif, konstruksivisme, dan teori kritis.

Positivisme.
Ilmu harus memiliki pandangan dunia posotivis sebagai berikut :Menurut Bungin (2005 : 31-32) bahwa :
  1. Objektif, teori tentang semesta haruslah bebas nilai. 
  2. Fenomenalisme, ilmu pengetahuan hanya bicara tentang semesta yang teramati, substansi metafisis yang diandalkan berada dibelakang gejala penampakan yang disingkirkan. 
  3. Reduksionisme, semesta direduksi menjadi fakta-fakta yang keras dan dapat diamati. 
  4. Naturalisme, alam semesta adalah objek-objek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam
  5. Kritik awal bersifat memperbaiki kesalahan positivisme, kritik ini menggunakan metode positivisme. Karena itu perspektif ini disebut post-positivisme.
  6. Post berarti sesudah/ retakan dari apa yang sebelumnya.
  7. Paradigma post-positivis disebut realisme kritis yang berarti paham tentang realitas yang menyakini bahwa ilmu pengetahuan dapat mempelajari realitas secara mandiri.

Post-positivisme
Empat macam paradigma post-positivisme :
  1. Post-positivisme rasional yang menggunakan paradigma kuantitatif dan metodologi kuantitatif statistik : empirik analitik tetapi membuat payung berupa grand concept agar data empirik sensual dapat dimaknai dalam cakupannya yang lebih luas.
  2. Post-positivisme fenomenologi – interpretif adalah teori post postivisme kritis yang menggunakan paradigma kualitatif, membuat telaah holistik, mencari esensi dan mengimplisitkan nilai moral dalam observasi, analisis dan pembuatan kesimpulan.
  3. Post-postivisme teori kritis dengan weltan schauung yang berangkat dari gugatan atas ketidakadilan kemudian pandangan dunia dapat dikembangkan dengan weltan schauung tertentu.
  4. Post-positivisme konstruksivisme, kostruksivis menolak objektivitas ala positivisme yang mengakui adanya fakta dan adanya empirik sedangkan konstruktivis berpendapat bahwa ada pemaknaan tentang kenyataan diluar diri yang dikonstruksi.

Kritis
Pendekatan teori kritis mirip dengan post-positivisme yang mencari makna dibalik empirik serta menolak bebas nilai. Pendekatan ini mempunyai komitmen yang tinggi kepada tata sosial yang lebih adil.  Dua asumsi yang menjadi landasan : 

    1. Ilmu sosial tidak sekedar memahami ketidakadilan dalam distribusi kekuasaan dan sumber daya melainkan berupaya untuk membantu menciptakan kesamaan dan emansipasi dalam kehidupan.
    2. Pendekatan teori kritis memiliki keterikatan moral untuk mengkritik siatus quo dan membangun masyarakat yang lebih adil.

Teori kritis, mencoba membongkar kepentingan atau ideologi yang berdiri dibalik fenomena sosial, karena teori ini tidak sekedar melakukan observasi melainkan memberikan kritik terhadap fenomena sosial.

Teori kritis meyakini pentingnya konstruksi kultur dan cara-cara praktik sosial dalam menentukan, menghilangkan, membangun suatu kultur. Bahasa juga dianggap menempati posisi penting dalam mempengaruhi pengalaman karena menjadi fokus penelitian komunikasi.

Teori kritis menekankan nilai-nilai dari suatu peristiwa dan tidak cocok untuk membuat pernyataan-pernyataan ilmiah mengenai hukum-hukum yang mengontrol kehidupan manusia.


Strukturalis fungsionalisme
Teori strukturalisme fungsionalisme memiliki sejumlah karakteristif yang harus dikenali yaitu
  1. Keniscayaan sinkroni dalam realitas, maksudnya realitas dianggap stabil tidak berubah.
  2. Tidak mempercayai peran subjektifitas dan kesadaran dalam realitas, karena memfokuskan diri pada pencarian faktor-faktor diluar subjek dan kesadaran.
  3.  Realitas dipercayai terpisah dan mandiri, serta dapat ditemukan kebenarannya melalui observasi, mengukur, dan menghubungkan temuan melalui hukum kausal. 
  4. Memisahkan bahasa dan simbol dari pemikiran dan dari objek yang disimbolisasikan. Bahasa adalah alat pemikiran bukan pemikirannya sendiri, bahasa sebagai alat harus cocok menggambarkan realitas apa adanya.

Teori struktural fungsional dapat menjelaskan kategori umum dan hubungan diantara variabel dalam sistem sosial.
Teori ini memiliki kelemahan dalam menampilkan kekhasan peristiwa individual dan pengalaman khusus manusia.

Interaksionisme
Teori interaksionis yang merupakan turunan dari perspektif interpretif dan konstruktivisme, memandang kehidupan sosial sebagai suatu proses interaksi.
  1. Kesaling hubungan merupakan basis dari kenyataan sosial, semua aspek kehidupan dianggap didasari oleh interaksi
  2. Interaksionisme berbeda terbalik dengan strukturalisme.
  3. Bila strukturalisme menganggap bahwa struktur sebagai inti dan interaksi sebagai turunannya, maka interaksionisme memiliki paham yang sebaliknya.

Teori interaksionis dirancang untuk membuka proses sosial dan menunjukkan bagaimana perilaku dipengaruhi oleh norma dan aturan kelompok, kekuatan teori ini terletak pada penjelasan ihwal dinamika dan hubungan interpersonal serta pengungkapan cara-cara perubahan individu atau kelompok dari satu situasi ke situasi lain.

Kelemahannya terletak pada ketidak mampuan menemukan struktur kehidupan manusia yang tetap ada pada seluruh situasi.
Teori interpretif kuat dalam menampilkan makna-makna ekspresif individual teks dan struktur sosial.


3 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...