Selasa, 01 Mei 2012

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Iksander (Staf UBB)


Banyak orang bilang ini zaman semua warga masyarakat bisa menjadi produsen informasi. Sebab zaman kini adalah masanya teknologi komunikasi berkembang dengan pesat dengan membawa perubahan-perubahan sosial. Termasuk cara orang berkomunikasi, bagaimana mengirimkan pesan ke orang lain.

Orang kini tak perlu lagi menunggu pagi tiba, untuk dapat berita kemarin. Atau menunggu pada jam-jam tertentu untuk dapat berita terbaru. Update berita dapat dengan mudah didapat dalam hitungan detik.

Itu karena, computer dan internet memainkan perannya. Meluaskan indera manusia hingga tanpa batas. Komputer terhubung dengan internet memungkinkan anda melihat kondisi politik Suriah dalam hitungan detik. Atau melihat tayangan langsung acara bola secara real time melalui situs televisi gratis internet.

Kini, meski bukan seorang wartawan konvensional yang jelas bekerja dibawah naungan institusi pers, kita dapat menjadi seorang wartawan juga. Teknologi komunikasi memungkinkan kita sekali lagi menjadi produsen informasi.

Media sosial dan jejaring sosial bermunculan menawarkan sejumlah keistimewaan bagi person per person. Anda tak lagi dibatasi wilayah atau waktu. Ruang dan waktu bukan pembatas namun seolah tiada batas. Implikasi ideologisnya anda bisa menjadi egaliter dan liberal sekaligus.

Dari blog, kita menjadi pemberi informasi. Ragam informasi bermunculan dalam ragam blog yang jumlahnya jutaan. Dari situs facebook dan twitter, kita menjadi pemberi sekaligus penerima pesan singkat. Konsep interaktif dan feedback arus cepat jadi indikator utama. Pesan pun tak kaku dan kerap berubah persepsi.

Kita kini memang telah masuk dalam zaman informasi. Bukan lagi industri, namun manusia informasi. Siapa yang tanggap dan cekatan dalam kemampuan informasi, dialah yang punya kesempatan untuk maju pesat.

Implikasi negatifnya tentu tak bisa diabaikan. Problem sosial semacam penipuan, fake dokumen, miss leading informasi semakin menjadi-jadi. Ribuan informasi tersebar di internet tak mesti pula ditelan mentah-mentah. Ada filterisasi, ada seleksi. Ada pula keharusan triangulasi. Guna mencari kebenaran.

Setiap orang adalah produsen informasi, ibaratnya buah simalakama pula. Ada orang yang memang benar-benar mendedikasikan karyanya untuk informasi yang sehat dicapai dengan pola yang sistematis dan benar. Juga yang tak kalah pentingnya orisinalitas.

Ada pula, mereka yang golongan tak ingin susah-susah. Golongan ini adalah tipe klicker, bloking, copy lalu paste informasi. Mengkopi informasi dari beragam sumber. Lalu menggandakannya sebagai tulisan baru atau tulisan dengan link lengkap.

Saya secara khusus, sangat menyayangkan golongan terakhir ini. Ada beberapa hal yang menyebabkan kesedihan ini. Sekaligus apa yang semestinya dilakukan jika kita ingin menjadi jurnalis online beneran?.

Pertama, budaya copy paste (copas) pada dasarnya adalah menodai prinsip produsen informasi itu sendiri. Produsen informasi tak jauh beda dengan jurnalis yang memang berkutat pada kegiatan mencari dan mengola berita. Membuat sesuatu informasi baru. Kata kuncinya budaya copas kontras dengan prinsip orisinalitas yang memang hakiki. Orisinalitas adalah indikator utama kerja produsen informasi.

Kedua, prinsip content is the king adalah benar adanya. Ia bukan semata aksesoris semacam jam digital, atau variasi font dalam sebuah blog atau website. Buatlah yang benar-benar bagus dan itu memang hasil dari anda sendiri. Ia murni tulisan anda.

Ketiga, prinsip menyajikan kebenaran pada khalayak adalah kepastian. Bayangkan bila sumber informasi anda gandakan saja lalu masukan dalam sebuah postingan baru. Tanpa ada riset mendalam dan uji informasi. Kemudian di belakang hari, informasi tersebut tidak benar. Bayangkan akibat dari kesalahan yang kita buat.

Terakhir, jika pun kita masih menghargai sumber tulisan dengan mencantumkan nama penulis. Tetap saja, kita tak boleh berlaku semena-mena dengan menggadakan muatan konten hingga seratus persen. Bukankah prinsip gandakan tulisan cuma pada beberapa paragraph saja dari sumber tulisan. Selebihnya, adalah kreatifitas dan penalaran sendiri.

Meskipun nantinya bertahan dengan prinsip itu, menggandakan seratus persen dan memberi atribusi penulis asli, tetap saja harus menampilkan link aktif. Ketika pembaca mengklik link itu ia akan diarahkan pada sumber aslinya. Link aktif perlu dan sangat disarankan sebagai cara terakhir bagi anda produsen informasi yang memang baru belajar.

Hakikatnya, perkembangan teknologi komunikasi tak serta merta merubah prinsip dan kaidah mencari informasi. Varian media boleh berbeda dan beragam. Namun, cara dan pola jurnalistik tetaplah berlaku.

Bagi kita yang awam mengenai kata jurnalistik, ada baiknya memulainya dengan menulislah secara orisinal dulu. Kurangi budaya copas. Selanjutnya, lambat laun anda akan menjelajahi dunia ini setapak demi setapak. (Iksander)
 
Sumber : UBB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...